Lebih Sering Gunakan Tangan Kiri? Begini Kata Peneliti

LADY GAGA. Salah satu seniman yang menggunakan tangan kiri lebih dominan. (foto:ig/@ladygaga)

INSPIRASI NUSANTARA— Orang yang lebih sering menggunakan tangan kiri atau orang kidal sering kali dianggap unik karena sebagian besar populasi dunia cenderung menggunakan tangan kanan. Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa menjadi kidal tidak hanya berbeda dalam hal penggunaan tangan, tetapi juga dalam cara berpikir dan tingkat kecerdasan seseorang.

Dalam beberapa penelitian, ilmuan mengungkapkan bahwa tangan kiri memiliki fungsi otak kanan yang lebih unggul. Hal ini berhubungan dengan keunggulan pada proses nalar, kecerdasan terkait spasial, hingga penggambaran objek di kepala. Orang kidal memiliki keseimbangan pada kedua belah otak, sehingga lebih mudah untuk mengolah informasi yang diterima.

Sebuah studi dari Universitas St. Lawrence di New York mengungkapkan bahwa rata-rata pengguna tangan kiri memiliki kelebihan tertentu dalam keterampilan berpikir kreatif, pemecahan masalah, dan penalaran analitis. Hal ini disebabkan oleh cara kerja otak pengguna tangan kiri yang biasanya lebih aktif di bagian kanan, yang berhubungan dengan kreativitas dan pemikiran abstrak.

Tidak hanya itu, para pengguna tangan kiri juga diyakini memiliki kemampuan multitasking yang lebih baik. Ketika berhadapan dengan masalah kompleks, mereka bisa mencari solusi dari sudut pandang yang tidak biasa, sehingga menghasilkan ide yang inovatif. Karakteristik ini ditemukan pada tokoh-tokoh terkenal seperti Albert Einstein dan Leonardo da Vinci, yang keduanya diketahui menggunakan tangan kiri dalam kegiatan sehari-hari mereka.

Namun, Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports, yang dipimpin oleh ilmuwan Georgina Donati dari Universitas Oxford, memberikan wawasan baru tentang bagaimana asimetri otak berperan dalam kemampuan kognitif, bukan hanya sekadar dominasi tangan.

Penelitian ini melibatkan pengunjung Museum Sains di London, yang diuji melalui dua tugas berbeda. Pertama, mereka diminta untuk melakukan tugas pegboard, di mana peserta harus memindahkan patok kecil berwarna ke dalam lubang di papan dengan cepat, untuk menentukan kecepatan dan dominasi tangan mereka. Kedua, peserta melakukan tes wajah chimeric, di mana mereka diminta untuk menilai emosi yang ditampilkan pada separuh wajah kiri atau kanan, membantu peneliti memahami bagaimana emosi diproses di otak.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas orang tidak kidal. Selain itu, peserta cenderung menilai wajah dengan emosi di sisi kiri lebih ekspresif daripada sisi kanan, sebuah fenomena yang telah tercatat dalam literatur ilmiah sebelumnya. Para peneliti juga menemukan bahwa individu dengan tangan kanan sedang menunjukkan keberhasilan tertinggi dalam tugas pegboard, terlepas dari apakah mereka kidal atau tidak. Keberhasilan dalam tugas ini juga terkait dengan kelancaran berbahasa, menunjukkan adanya hubungan antara kemampuan kognitif dan dominasi tangan.

Temuan ini menyoroti bahwa mungkin bukan sekadar kidal atau tangan kanan yang berhubungan dengan kemampuan kognitif, tetapi lebih kepada bagaimana asimetri ini terdistribusi di otak. Di balik keunggulan ini, penting untuk dicatat bahwa kecerdasan tidak semata-mata ditentukan oleh tangan yang digunakan. Faktor-faktor lain, seperti pendidikan, pengalaman, dan lingkungan, tetap berkontribusi besar terhadap perkembangan kemampuan seseorang.

Dengan banyaknya keunikan dari pengguna tangan kiri, sudah saatnya masyarakat menghargai keistimewaan mereka dan memberikan dukungan untuk bakat serta keahlian yang mereka miliki. Dunia membutuhkan berbagai sudut pandang dan cara berpikir untuk menciptakan inovasi, dan tangan kiri bisa jadi salah satu bagian kecil dari keanekaragaman tersebut. (fit/in)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top