INSPIRASI NUSANTARA — Kearifan lokal menjadi jawaban nyata atas krisis sampah yang menghantui banyak daerah, seperti yang tercermin dalam tradisi Kumande Samaturu’ di Enrekang, Sulawesi Selatan sebuah prosesi makan bersama yang mengajarkan kesederhanaan dan cinta lingkungan melalui penggunaan daun jati sebagai wadah alami.
Di tengah ancaman krisis sampah yang semakin nyata, kearifan lokal di Enrekang, Sulawesi Selatan, memberikan pelajaran penting tentang bagaimana menjaga bumi melalui tradisi mereka. Salah satu prosesi kearifan lokal yang layak dijadikan contoh dalam pengelolaan sampah berkelanjutan adalah Kumande Samaturu’, bagian dari rangkaian ritual Maccera Manurung.
Tradisi ini bukan hanya tentang makan bersama usai pemotongan hewan persembahan, tetapi juga mengandung filosofi mendalam tentang kebersamaan, kesederhanaan, dan keharmonisan dengan alam. Yang menarik, semua hidangan dalam prosesi ini disajikan menggunakan daun jati, bukan wadah plastik atau bahan sekali pakai lainnya.
“Dalam rangkaian Maccera Manurung, Kumande Samaturu’ atau makan bersama dilakukan setelah peong dipotong. Wadah yang digunakan adalah daun jati.” Dikutip dari Buku Ragam Budaya
Kearifan Lokal dalam Penggunaan Daun Jati
Pilihan ini bukan hanya didasari oleh tradisi turun-temurun, tapi juga mencerminkan kesadaran ekologis yang telah lama hidup dalam kearifan lokal. Daun jati dikenal kuat, luas, dan tahan panas, menjadikannya media penyaji makanan yang alami dan berfungsi ganda.
Dilansir dari Zero Waste Indonesia, daun jati bahkan mampu menjaga kehangatan makanan, memunculkan aroma khas, hingga memberikan cita rasa alami yang menggugah selera. Praktik ini sepenuhnya bebas sampah, mudah terurai di alam, dan jauh dari kesan konsumtif.
Dalam konteks modern, di mana limbah plastik dari makanan dan minuman menyumbang porsi besar dalam tumpukan sampah nasional, praktik seperti Kumande Samaturu’ menjadi sangat relevan. Ia bukan sekadar ritual, melainkan representasi konkret dari gaya hidup berkelanjutan.
Baca juga : Maccera Manurung: Kearifan Lokal Sulsel dalam Medukung Gaya Hidup Ramah Lingkungan
Kondisi Lingkungan Sulsel saat ini
Di sisi lain, kondisi lingkungan Sulawesi Selatan kini menghadapi tantangan serius. Banyak kanal yang dulunya menjadi jalur pengairan dan perlindungan kini berubah menjadi saluran sampah dan sumber penyakit.
Hal ini disoroti oleh WALHI Sulsel, yang menganggap penataan ulang ruang hidup sebagai kebutuhan mendesak.
“Pemerintah tidak bisa terus-menerus menutup mata. Kanal sudah berubah jadi sumber ancaman, bukan perlindungan. Penataan adalah keniscayaan, tetapi harus dilakukan dengan hati-hati dan melibatkan warga,” ujar Slamet Riyadi, Kepala Departemen Riset dan Keterlibatan Publik WALHI Sulsel.
Pernyataan Slamet menegaskan bahwa solusi lingkungan tidak bisa berjalan dari atas ke bawah saja. Butuh keterlibatan aktif masyarakat dan pemanfaatan nilai-nilai lokal yang telah terbukti selaras dengan alam. Dalam hal ini, tradisi seperti Kumande Samaturu’ seharusnya tidak hanya dirayakan secara budaya, tetapi juga dikaji secara ilmiah dan diadopsi dalam program pengurangan sampah.
Baca juga : Kanal di Makassar Kritis, Walhi Beri Saran Ini untuk Penataan
Belajar dari Akar, Menjawab Masa Depan
Banyak kebijakan yang selama ini bertumpu pada teknologi atau larangan semata, namun gagal karena tidak menyentuh akar perilaku masyarakat. Kearifan lokal seperti di Enrekang justru menunjukkan bahwa solusi lingkungan bisa sederhana, murah, dan efektif, selama dilandasi kesadaran bersama.
Kumande Samaturu’ hanyalah salah satu dari sekian banyak kearifan lokal di Sulawesi Selatan yang mampu memberikan inspirasi dalam mengatasi krisis lingkungan. Tradisi ini membuktikan bahwa upaya mencintai alam bisa dimulai dari hal-hal kecil dari apa yang kita gunakan untuk makan, dari bagaimana kita memperlakukan sisa, dan dari bagaimana kita menghormati warisan leluhur yang bijak terhadap bumi.
Kini, tantangannya adalah bagaimana membawa warisan kearifan lokal ini ke panggung yang lebih luas ke ruang-ruang diskusi kebijakan, ke sekolah-sekolah, hingga ke platform digital yang digemari generasi muda. Sebab masa depan lingkungan bukan hanya soal teknologi tinggi, tapi juga tentang seberapa dalam kita mau belajar dari akar. (*/IN)