Inspirasinusantara.id — Di balik aroma kopi yang menenangkan, ada gejolak pasar dunia yang tengah mengguncang biji-biji kopi dari ladang hingga ke cangkir. Saat harga kopi global terjun bebas, para petani dan pencinta kopi Indonesia mulai merasakan getirnya kabar yang tak lagi sehangat secangkir espresso.
Kopi teman setia pagi hari, inspirasi di tengah pekerjaan, dan pelengkap obrolan santai kini tengah menghadapi kenyataan pahit di pasar global. Harga kopi dunia terus menukik dalam sebulan terakhir, dan kabar ini tak hanya membuat industri kopi terpukul, tapi juga memunculkan pertanyaan: bagaimana dampaknya bagi kita para penikmat kopi, dan tentu saja para petani di Indonesia?
Dilansir dari CNBC, harga arabika untuk kontrak Juli 2025 turun 0,81%, sementara robusta merosot 0,41%. Meski penurunan ini mungkin tidak terasa langsung di secangkir latte kita hari ini, namun situasi ini mencerminkan kondisi pasar yang sedang tidak stabil.
Produksi global sedang melimpah. Brasil dan Vietnam, dua raksasa kopi dunia, masing-masing meningkatkan produksinya. Brasil diprediksi memanen 65 juta kantong kopi, sementara Vietnam menambah stoknya hingga 31 juta kantong.
Dampaknya Tidak Sederhana
Semakin banyak kopi berarti semakin murah harganya. Bagi pecinta kopi, ini mungkin terdengar seperti kabar baik: siapa tahu harga kopi di kedai-kedai turun? Tapi bagi petani, terutama di Indonesia, ini berarti satu hal—pendapatan mereka bisa menyusut.
Baca juga : Ngopi juga Meninggalkan Jejak Karbon di Makassar
Indonesia saat ini menduduki posisi keempat dalam produksi kopi dunia, menghasilkan sekitar 654.000 ton kopi per tahun. Namun, jika dibandingkan dengan Brasil yang menghasilkan hampir 4 juta ton, jelas bahwa Indonesia perlu bekerja lebih keras agar tetap bersaing, apalagi di tengah anjloknya harga global.
Kopi, Gaya Hidup, dan Masa Depan
Dalam beberapa tahun terakhir, kopi tak lagi sekadar minuman. Ia telah menjelma menjadi bagian dari gaya hidup. Mulai dari tren third wave coffee, kafe-kafe estetik, sampai home brewing yang digemari anak muda—kopi telah memiliki tempat khusus di hati masyarakat urban.
Tapi ada sisi lain dari cangkir kopi yang jarang kita pikirkan: kondisi petani di balik biji kopi yang kita nikmati. Di saat harga pasar jatuh dan permintaan melemah, banyak petani kecil yang justru harus merogoh lebih dalam untuk tetap bertahan.
Cuaca, Ekspor, dan Harapan Baru
Meski produksi meningkat, ancaman kekeringan di Brasil dan penurunan ekspor dari Vietnam memberi sinyal bahwa pasar kopi tetap dinamis dan tak selalu bisa ditebak. Di sisi lain, ada peluang bagi Indonesia untuk memperkuat pasar kopi spesialti, meningkatkan kualitas, dan mengangkat cerita lokal—karena pada akhirnya, kopi bukan hanya soal rasa, tapi juga soal nilai.
Jadi, lain kali kamu menyeruput kopi di pagi hari, ingatlah: ada dunia yang sedang bergolak di balik aromanya. Dan mungkin, dengan lebih memilih kopi lokal atau mendukung petani kecil, kita ikut menjaga agar secangkir kopi tetap punya masa depan. (*/IN)