inspirasinusantara.id – Di jantung pegunungan Sulawesi Selatan, kabut turun perlahan seperti selimut lembut yang menenangkan luka batin. Di balik sunyi dan sejuknya udara, sejumlah tempat wisata menjelma jadi pelabuhan jiwa—tempat di mana pikiran yang lelah pulang, dan hati yang rapuh menemukan ruang untuk bernapas kembali.
Di Malino, Lembanna, hingga dataran tinggi Toraja, kabut dan suhu sejuk bukan sekadar fenomena alam, tetapi telah menjadi daya tarik utama wisatawan. Pengalaman berada di tempat wisata berselimut kabut dipercaya mampu meredakan stres, menjernihkan pikiran, dan menyegarkan kembali semangat yang nyaris padam.
Penelusuran berbagai studi juga mengungkap bahwa lingkungan sejuk dan berkabut berdampak positif terhadap kesehatan mental. Tak heran jika tempat wisata bernuansa dingin kini menjadi pilihan populer untuk mereka yang membutuhkan pelarian singkat dari tekanan hidup.
Hal ini sejalan dengan teori Attention Restoration dari Kaplan & Kaplan (1995) yang menjelaskan bahwa elemen alami seperti kabut, suara angin, dan lanskap pegunungan memiliki efek restoratif—memulihkan energi mental dan menurunkan kadar stres.
“Lingkungan dengan suhu rendah dan visual yang menenangkan seperti kabut bisa menghentikan dialog internal negatif dan memperlambat ritme pikiran yang terlalu cepat,” tulis Kaplan dalam jurnalnya.
Sulsel Punya Banyak “Tempat Wisata Kabut”
Beberapa wilayah di Sulawesi Selatan menjadi tempat wisata populer karena keindahan kabutnya. Bukan hanya instagenik, tapi juga menyimpan efek penyembuhan:
1. To’tombi, Toraja Utara
Sebuah desa tinggi di atas pegunungan Toraja yang setiap pagi tertutup kabut tebal. Dari gardu pandang To’tombi, pengunjung bisa melihat hamparan awan seperti kapas, mengapung di bawah kaki. Banyak wisatawan yang mengaku merasa damai dan tenang saat menghabiskan waktu pagi di sini.
Baca juga : 4 Tempat Wisata Estetik Sulsel Ini Disukai Gen Z
2. Tebing Romantis, Toraja
Julukan “negeri berselimut kabut” bukan tanpa alasan. Desa ini menghadirkan suasana sunyi, hijau, dan sejuk yang cocok untuk mereka yang ingin menjauh sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Bahkan Kemenparekraf RI telah mengakui potensinya sebagai desa wisata berbasis alam.
3. Malino, Gowa
Daerah pegunungan ini sudah sejak lama menjadi pelarian favorit masyarakat Makassar. Hutan pinus, kebun teh, dan suhu 15–20°C yang sering diselimuti kabut tipis menjadikan Malino sebagai tempat sempurna untuk mental detox.
Dingin Tak Selalu Buruk: Ini Ilmunya
Bukan hanya mitos, suhu dingin memang membawa manfaat psikologis. Dalam artikel PLOS One tahun 2020, disebutkan bahwa paparan udara dingin dan alam terbuka bisa menurunkan hormon kortisol (penyebab stres), memperbaiki suasana hati, dan meningkatkan kualitas tidur.
Beberapa teknik terapi modern bahkan mulai meniru efek alam ini lewat cold exposure therapy dan forest therapy. Namun, Sulsel menawarkan semua itu secara alami—tanpa perlu membayar mahal.
Tempat wisata dingin dan berkabut di Sulawesi Selatan bukan hanya cocok untuk feed Instagram, tapi jauh lebih dalam dari itu. Ia adalah ruang pemulihan, tempat jiwa bisa bernapas, dan overthinking bisa larut bersama embun pagi. (*/IN)