JAKARTA, inspirasinusantara.id – Kenaikan suhu di wilayah perkotaan pada awal Januari 2025 mulai membawa dampak yang lebih luas bagi kehidupan warga. Panas kota tidak lagi berhenti pada persoalan kenyamanan, tetapi ikut mendorong meningkatnya biaya kesehatan rumah tangga, terutama di kawasan dengan kepadatan bangunan tinggi.
Lingkungan kota yang didominasi beton dan aspal membuat panas terperangkap lebih lama, bahkan hingga malam hari. Kondisi ini memaksa tubuh bekerja ekstra untuk menjaga suhu internal, khususnya bagi warga yang beraktivitas di luar ruang. Dampaknya, kelelahan muncul lebih cepat, daya tahan tubuh menurun, dan risiko gangguan kesehatan ringan semakin sering terjadi.
Tekanan fisik tersebut berimbas langsung pada pola pengeluaran masyarakat. Sejumlah rumah tangga mulai menambah anggaran untuk kebutuhan pemulihan kesehatan, seperti suplemen, minuman elektrolit, pemeriksaan medis ringan, hingga perlindungan kesehatan tambahan. Kenaikan belanja ini muncul sebagai bentuk adaptasi, bukan perubahan gaya hidup, terhadap lingkungan kota yang semakin panas.
Pakar kesehatan lingkungan menilai fenomena ini berkaitan erat dengan tata kelola kota yang belum responsif terhadap perubahan iklim. Akumulasi panas di kawasan padat penduduk menciptakan tekanan biologis yang berlangsung terus-menerus, menguras stamina warga, dan menurunkan produktivitas harian. Dampak kesehatan yang awalnya terasa ringan perlahan berubah menjadi beban ekonomi rumah tangga.
Dalam situasi ini, struktur biaya hidup warga kota ikut bergeser. Upaya penghematan sering kali tergerus oleh kebutuhan menjaga kebugaran di tengah suhu ekstrem. Tanpa disadari, masyarakat menanggung apa yang disebut sebagai “biaya iklim”, yakni pengeluaran tambahan akibat lingkungan yang tidak lagi ramah bagi kesehatan.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bagi pemerintah daerah akan pentingnya kebijakan adaptasi iklim perkotaan. Perluasan ruang terbuka hijau, pengendalian panas permukaan, serta penerapan desain bangunan ramah iklim dinilai krusial untuk menurunkan suhu dasar kota. Tanpa langkah konkret, panas kota berpotensi terus menaikkan biaya kesehatan dan menambah tekanan ekonomi warga dalam jangka panjang.(jmi/IN)