Kearifan Lokal Sulsel: Dari Ladang Kol Baroko, Orang Enrekang Belajar Merawat Kebersamaan

Kearifan Lokal Sulsel
BUDAYA. Suasana panen kol di Kabupaten Enrekang. (foto:ist)

Penulis: Windi Lestari H

DESA Baroko di Kabupaten Enrekang terbentang di perbukitan dengan hijau yang tenang. Pagi hari selalu dimulai dari ladang. Kabut turun perlahan, menyentuh daun-daun kol yang berbaris rapi, seolah ikut menjaga pekerjaan yang akan dimulai.

Nama Baroko lahir dari kebiasaan warganya. Orang-orang tua menyebut wilayah ini ba’raba kolo atau kebun kol. Sebutan itu tidak pernah benar-benar ditulis, tetapi terus hidup karena diucapkan, diingat, dan dijalani.

Ibu Ina, warga Desa Baroko, mengingat cerita itu sebagai bagian dari hidupnya. “Nakua tau anna Baroko kepanjanganna ba’raba kolo,” ujarnya. Bagi warga, nama desa tidak perlu dijelaskan panjang lebar. Cukup melihat ladang-ladang yang membentang.

Kol menjadi tanaman utama yang menopang kehidupan. Dari menanam hingga panen, semua dijalani dengan ritme yang sama. Cuaca pegunungan sering berubah, dan warga belajar membaca tanda-tandanya dari tanah dan langit.

Pekerjaan di ladang menuntut kesabaran. Menunggu hujan, membersihkan gulma, menjaga tanaman dari hama. Semua dilakukan berulang, tanpa banyak keluhan. Di Baroko, bekerja berarti menyesuaikan diri dengan alam.

Ketika bulan Agustus tiba, suasana desa berubah. Kol-kol terbaik dipilih dan dibawa ke pusat desa. Bukan untuk dijual, tetapi untuk diperlihatkan. Warga berkumpul menyambut perayaan kemerdekaan dengan cara mereka sendiri.

Timbangan dipasang. Satu per satu kol diangkat dan ditimbang di hadapan warga. Angka bergerak perlahan, disambut tepuk tangan yang tidak berlebihan, tetapi penuh penghargaan.

Perlombaan mencari kol terberat bukan tentang siapa paling besar hasil panennya. Ia tentang musim yang berhasil dilewati, tentang ladang yang dirawat dengan tekun.

Tak jauh dari situ, mangpassan kolo digelar. Lelaki-lelaki desa berlari sambil memanggul kol di bahu. Nafas tersengal, kaki menghantam tanah, tubuh bergerak mengikuti ingatan panen yang telah lama akrab.

Tawa dan sorak menyatu. Anak-anak menonton dengan mata berbinar. Perempuan berbincang di pinggir lapangan. Orang-orang tua duduk mengamati, sesekali tersenyum kecil.

Di Baroko, kol tidak hanya berakhir di pasar. Ia singgah di ruang bersama, menjadi alasan orang berkumpul dan saling menguatkan. Kerja bertani yang melelahkan diberi ruang untuk dirayakan.

Tradisi ini bertahan bukan karena diwajibkan, tetapi karena dirasakan. Dari ladang hingga perayaan, Kearifan Lokal Sulsel hadir sebagai cara orang Baroko menjaga tanah, hasil panen, dan kebersamaan. (*/IN)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top