Penulis: Elva Eva Sampe’
Berdiri di kawasan Rante Kalimbuang Bori’ Toraja Utara, suasananya terasa tenang tapi penuh cerita. Batu-batu besar yang berdiri tegak di hadapan seolah membuat siapa pun otomatis menurunkan suara dan memperlambat langkah Deretan menhir itu tersusun rapi di tanah rante, sebagian tinggi menjulang, sebagian lain lebih kecil namun tetap kokoh. Jumlahnya ratusan, dan semuanya menjadi penanda penghormatan bagi orang-orang yang pernah dimuliakan dalam hidupnya.
Rante ini dikenal sebagai tempat berlangsungnya upacara pemakaman tingkat tinggi, yang dijalani dengan penuh kebersamaan. Di sini, duka tidak ditutup rapat, melainkan dirayakan bersama keluarga, kerabat, dan seluruh kampung. Di sekitar area, bangunan bambu beratap perahu berdiri sederhana, menjadi ruang berkumpul, makan, dan berbagi cerita. Duduk di sana, mudah membayangkan ramainya suasana saat upacara berlangsung, penuh suara dan kehadiran manusia. Menyusuri jalur setapak ke atas bukit, liang-liang kubur batu tampak di sisi kiri dan kanan jalan.
Dalam satu liang, sering kali tersimpan lebih dari satu anggota keluarga, seakan kebersamaan itu ingin tetap dijaga sampai akhir. Agak terpisah dari rante, terdapat pohon tarra yang menyimpan kisah bayi-bayi dalam tradisi passilliran. Tempat ini terasa sunyi dan menenangkan, menghadirkan rasa hormat pada cara alam ikut merawat kehidupan yang singkat. Jessica, salah satu wisatawan yang datang berkunjung, mengaku kagum dengan tempat ini. “Tenang sekali tempatnya, sederhana tapi dalam, dan bikin kita mikir tentang hidup,” ujarnya sambil menatap menhir. Rante Kalimbuang Bori’ sendiri telah diakui UNESCO sebagai situs warisan budaya dunia. Pengakuan itu terasa pantas, karena tempat ini bukan hanya menyimpan batu tua, tapi juga nilai hidup yang masih dijaga hingga hari ini.