Hampir Separuh Warga RI Tak Mampu Beli Makanan Sehat

JAKARTA, inspirasinusantara.id — Hampir separuh penduduk Indonesia masih belum mampu membeli makanan sehat dan bergizi secara rutin. Kondisi ini terungkap dari evaluasi sistem pangan nasional yang merujuk pada laporan global tentang keterjangkauan diet sehat, yang menunjukkan bahwa persoalan pangan di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan, tetapi juga daya beli dan akses masyarakat.

Data terbaru menunjukkan sekitar 43,5 persen penduduk Indonesia, atau setara dengan sekitar 123 juta orang, tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk memenuhi pola makan sehat yang mencakup kebutuhan gizi seimbang. Penghitungan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan pangan bergizi serta pengeluaran dasar non-pangan rumah tangga.

Secara global, Food and Agriculture Organization (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat bahwa biaya diet sehat di Indonesia mencapai sekitar USD 4,75 per orang per hari. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata biaya diet sehat di negara berpenghasilan tinggi yang berada di kisaran USD 4,22 per hari. Perbedaan biaya ini menjadi salah satu faktor utama yang membuat makanan sehat sulit dijangkau oleh sebagian besar masyarakat.

Pakar teknologi pangan Universitas Gadjah Mada, Prof. Sri Raharjo, menjelaskan bahwa mahalnya harga pangan bergizi, khususnya sumber protein hewani, menjadi penghambat utama pemenuhan gizi seimbang. “Untuk memenuhi kebutuhan sekitar 2.150 kilokalori per hari yang mencakup protein, vitamin, dan mineral, biaya yang dibutuhkan bisa mencapai sekitar Rp40.000 per orang per hari,” ujarnya. Menurutnya, kondisi tersebut membuat banyak rumah tangga terpaksa mengorbankan kualitas gizi demi menyesuaikan dengan kemampuan ekonomi.

Temuan ini sejalan dengan data Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang menyebutkan sekitar 40 hingga 50 persen populasi Indonesia belum mampu membeli pola makan bergizi seimbang. Biaya diet sehat dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan makanan pokok yang hanya mencukupi kebutuhan energi harian.

Dampaknya terlihat pada pola konsumsi masyarakat. Banyak rumah tangga mengandalkan makanan berkarbohidrat tinggi yang lebih murah dan mudah diakses, sementara konsumsi sayuran, buah, dan protein hewani relatif rendah. Ketidakseimbangan ini berkontribusi pada masalah gizi ganda, mulai dari stunting dan anemia hingga meningkatnya risiko penyakit tidak menular seperti diabetes dan obesitas.

Dalam konteks kebijakan, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk memperluas definisi ketahanan pangan. Ketahanan pangan tidak hanya diukur dari ketersediaan dan produksi, tetapi juga dari keterjangkauan harga serta pemerataan akses makanan sehat. Tanpa intervensi kebijakan yang menyasar stabilisasi harga pangan bergizi, peningkatan distribusi, dan perlindungan bagi kelompok berpendapatan rendah, kesenjangan akses makanan sehat dinilai akan terus berlanjut dan memengaruhi kualitas hidup masyarakat Indonesia.(eva/IN)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top