INSPIRASI NUSANTARA–Riset klinis menunjukkan bahwa pemberian mikrodosis ekstrak ganja seimbang dari THC dan CBD berpotensi memperlambat penurunan fungsi kognitif pada pasien Alzheimer ringan. Temuan ini mengarah pada kemungkinan pengembangan pendekatan terapeutik baru untuk penyakit neurodegeneratif yang hingga kini belum memiliki pengobatan efektif.
Penelitian ini dipimpin oleh tim ilmuwan dari Federal University of Latin American Integration. Sebanyak 24 pasien Alzheimer ringan berusia antara 60 hingga 80 tahun direkrut untuk uji klinis acak, ganda-butakan (double-blind), dan terkontrol placebo. Partisipan dibagi secara acak untuk menerima minyak ekstrak ganja dengan dosis 0,3 mg THC dan 0,3 mg CBD per hari atau placebo selama 24 minggu. Dosis ini jauh di bawah tingkat yang menyebabkan efek psikoaktif yang biasa dikaitkan dengan penggunaan ganja rekreasional.
Untuk mengukur fungsi kognitif, peneliti menggunakan Mini-Mental State Examination (MMSE), alat penilaian standar yang menilai kemampuan berpikir, memori, dan orientasi pasien. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa skor MMSE pada kelompok yang menerima ekstrak ganja tetap stabil atau sedikit meningkat, sedangkan kelompok yang menerima placebo menunjukkan penurunan skor, mengindikasikan progres penurunan kognitif yang lebih cepat pada kelompok placebo. Perbedaan skor antara kedua kelompok berkisar dua sampai tiga poin pada skala maksimum 30 poin.
Seorang anggota tim peneliti menjelaskan, “Dosis yang kami gunakan sangat rendah dan tidak menimbulkan efek psikoaktif, namun masih mampu memodulasi fungsi endocannabinoid yang berperan dalam neuroproteksi.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa efek stabilisasi kognitif diduga terkait dengan modulasi proses biologis di otak, bukan karena perubahan kesadaran pasien.
Selain efek kognitif, penelitian mencatat bahwa pemberian mikrodosis tidak meningkatkan kejadian efek samping serius dibandingkan kelompok placebo, sehingga pendekatan ini dinilai relatif aman dalam konteks uji klinis. Namun, senyawa tersebut tidak menunjukkan efek signifikan pada gejala non-kognitif, seperti suasana hati, kesehatan umum, atau kualitas hidup pasien.
Meski hasil awal ini menunjukkan potensi terapeutik, para peneliti menekankan keterbatasan studi, yaitu ukuran sampel yang kecil dan durasi penelitian yang relatif singkat. Mereka menyatakan bahwa lebih banyak uji klinis dengan jumlah peserta yang lebih besar dan durasi lebih panjang diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keamanan jangka panjang ekstrak ganja mikrodosis sebagai intervensi Alzheimer.
Alzheimer merupakan penyakit neurodegeneratif progresif yang ditandai oleh penurunan kemampuan kognitif dan memori. Hingga saat ini belum ada terapi yang terbukti dapat menghentikan atau secara signifikan memperlambat perjalanan penyakit. Temuan riset ini menambah wawasan ilmiah tentang peran potensial senyawa dari tanaman ganja dalam mengatasi penurunan fungsi otak yang berkaitan dengan Alzheimer.(eva/IN)