INSPIRASI NUSANTARA—Budaya kerja toxic di lingkungan kerja kerap bermula dari perilaku tidak menyenangkan yang dianggap sepele dan dibiarkan berlangsung, serta diperkuat oleh kepemimpinan yang lemah. Temuan ini muncul dari analisis akademik mengenai dinamika hubungan kerja dan gaya kepemimpinan dalam organisasi modern.
Peneliti perilaku organisasi menyebutkan bahwa perilaku tidak menyenangkan di tempat kerja mencakup tindakan seperti merendahkan rekan kerja, mengabaikan pendapat, hingga cara berkomunikasi yang kasar. Perilaku ini dikenal sebagai workplace incivility, yakni ketidaksopanan di lingkungan kerja yang bersifat ambigu dan sering kali tidak melanggar aturan formal perusahaan.
“Karena intensitasnya rendah dan sering dianggap bukan masalah besar, perilaku semacam ini jarang dilaporkan, padahal dampaknya bisa berakumulasi,” ujar salah satu peneliti dalam kajian tersebut.
Berdasarkan temuan riset, lebih dari separuh pekerja diperkirakan pernah mengalami interaksi tidak menyenangkan secara berulang. Situasi ini tidak hanya memengaruhi kondisi psikologis individu, tetapi juga menurunkan kualitas kerja dan relasi antarkaryawan.
Penelitian juga menemukan bahwa ketidaksopanan di tempat kerja cenderung bersifat menular. Korban maupun pengamat berpotensi meniru perilaku serupa sebagai bentuk respons atau mekanisme bertahan. “Dalam banyak kasus, pekerja yang awalnya menjadi korban justru ikut terlibat dalam siklus perilaku negatif,” jelas peneliti tersebut.
Faktor pemicu perilaku ini beragam, mulai dari tekanan kerja berlebihan, kekecewaan terhadap atasan, hingga pengalaman diperlakukan tidak adil sebelumnya. Namun, kepemimpinan dinilai memiliki peran paling menentukan dalam membentuk atau mencegah budaya kerja toxic.
Kepemimpinan yang dinilai mediocre, tidak tegas, atau tidak konsisten dalam menegakkan etika kerja cenderung membiarkan perilaku tidak pantas berkembang. Ketimpangan relasi kuasa antara atasan dan bawahan juga membuat perilaku negatif dari pemimpin sulit dikritik atau dilaporkan.
Sebaliknya, penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan otentik dapat menekan munculnya budaya kerja toxic. Pemimpin yang sadar akan peran, terbuka terhadap kritik, dan konsisten pada nilai dinilai mampu menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat.
“Pemimpin yang mampu merefleksikan kekuatan dan kelemahannya sendiri memberi sinyal kuat tentang standar perilaku yang dapat diterima di tempat kerja,” kata peneliti tersebut.
Untuk memutus siklus budaya kerja toxic, para ahli menyarankan pekerja merespons ketidaksopanan dengan komunikasi yang tegas namun profesional. Jika perilaku negatif terus berlanjut, pelibatan manajemen atau sumber daya manusia dianggap sebagai langkah penting untuk menjaga kesehatan lingkungan kerja secara jangka panjang.(eva/IN)