Jakarta,inspirasinusantara.id – Dokter di sejumlah rumah sakit rujukan di Jakarta mengingatkan masyarakat agar mewaspadai keluhan kesehatan yang muncul pada malam hari karena dapat menjadi tanda awal gangguan ginjal. Pola tersebut dinilai semakin relevan di kawasan perkotaan, seiring meningkatnya penyakit metabolik dan masih rendahnya kesadaran warga untuk memeriksakan diri sejak dini.
Seorang dokter spesialis penyakit dalam mengatakan bahwa peningkatan frekuensi buang air kecil pada malam hari atau nokturia menjadi salah satu keluhan yang paling sering disampaikan pasien dengan gangguan ginjal. “Kalau seseorang sering terbangun malam untuk buang air kecil tanpa sebab jelas, seperti tidak minum banyak sebelum tidur, itu perlu diperiksa karena bisa terkait dengan penurunan fungsi ginjal,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam kondisi normal ginjal berfungsi mengatur keseimbangan cairan tubuh sehingga produksi urine menurun saat malam. Ketika fungsi tersebut terganggu, volume urine justru meningkat pada waktu istirahat. Menurutnya, kondisi ini kerap dianggap sepele oleh pasien sehingga pemeriksaan medis sering tertunda.
Selain perubahan frekuensi berkemih, tenaga medis juga menyoroti karakter urine sebagai indikator gangguan ginjal. Urine berbuih, berwarna lebih gelap, atau volumenya berkurang disebut dapat mencerminkan gangguan proses penyaringan darah. Dokter tersebut menambahkan bahwa sebagian pasien datang dengan keluhan sesak napas ringan serta pembengkakan pada kaki atau wajah setelah bangun tidur.
“Banyak pasien baru memeriksakan diri ketika fungsi ginjal sudah menurun cukup jauh karena gejala awalnya tidak terlalu mengganggu,” katanya. Ia menilai kondisi itu berkontribusi pada meningkatnya kebutuhan perawatan lanjutan dan memperberat beban layanan kesehatan.
Dalam konteks sistem kesehatan perkotaan, keterlambatan diagnosis berdampak pada meningkatnya kebutuhan terapi jangka panjang, termasuk dialisis. Menurut dokter tersebut, pemeriksaan laboratorium sederhana melalui tes darah dan urine perlu diperluas sebagai upaya deteksi dini, khususnya bagi kelompok berisiko seperti penderita diabetes, hipertensi, dan lanjut usia.
Ia juga mengimbau masyarakat agar lebih peka terhadap perubahan kondisi tubuh. “Pembengkakan, stamina menurun tanpa sebab jelas, dan gangguan buang air kecil di malam hari jangan dianggap sepele. Pemeriksaan lebih awal bisa mencegah komplikasi,” ujarnya.
Tenaga medis itu menegaskan bahwa deteksi dini gangguan ginjal tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga berpengaruh terhadap keberlanjutan sistem layanan kesehatan di kota-kota besar. Warga diminta segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan jika keluhan malam hari muncul berulang agar penanganan dapat dilakukan sebelum risiko komplikasi meningkat.(frh/IN)