Gangguan Mata Meningkat akibat Paparan Layar

JAKARTA, inspirasinusantara.id—Peningkatan penggunaan perangkat digital dalam aktivitas kerja dan pembelajaran mendorong naiknya risiko gangguan mata di berbagai kelompok usia. Kondisi tersebut dilaporkan muncul seiring kebiasaan menatap layar komputer, ponsel, dan tablet dalam durasi panjang tanpa jeda yang memadai.

Dokter mata Willibrordus Tantri Winaksa dari RS EMC Cibitung dan Cikarang mengatakan gangguan mata terjadi karena otot penglihatan bekerja terus-menerus pada jarak dekat. “Saat fokus pada layar, frekuensi berkedip menurun sehingga mata lebih mudah kering. Posisi layar yang kurang ergonomis dan pencahayaan yang tidak tepat juga memperberat beban kerja mata,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa keluhan tersebut kini tidak hanya dialami pekerja kantor. Pelajar hingga anak-anak yang menggunakan gawai untuk proses belajar juga mulai menunjukkan gejala serupa. Menurutnya, tanpa perubahan kebiasaan visual, gangguan mata berpotensi mengganggu konsentrasi dan kenyamanan penglihatan dalam jangka panjang.

Willibrordus menambahkan, peningkatan ketergantungan pada teknologi digital di ruang kerja dan ruang kelas membuat isu kesehatan mata semakin relevan di kawasan perkotaan. Ia menyebut pola penggunaan perangkat yang tidak diimbangi pengaturan waktu dan ergonomi dapat menyebabkan keluhan muncul berulang.

Sebagai langkah pencegahan, ia menganjurkan penerapan aturan 20-20-20, yakni mengalihkan pandangan ke objek berjarak sekitar enam meter selama 20 detik setiap 20 menit menatap layar. Ia juga menyarankan jarak layar sekitar 50–70 sentimeter dari mata serta pencahayaan ruangan yang merata untuk mengurangi ketegangan visual.

Selain itu, masyarakat diimbau membiasakan berkedip secara sadar guna menjaga kelembapan permukaan mata. Pada anak-anak, orang tua diminta mengawasi durasi penggunaan gawai dan mendorong aktivitas luar ruang sebagai penyeimbang. Pemeriksaan mata secara berkala juga dianjurkan, terutama bagi individu yang menghabiskan sebagian besar waktunya di depan komputer atau ponsel.

Willibrordus mengingatkan agar masyarakat segera berkonsultasi ke dokter mata apabila keluhan tidak membaik meski waktu layar telah dikurangi. Ia mengatakan pemeriksaan sejak dini diperlukan untuk memastikan apakah terdapat gangguan refraksi atau kondisi lain yang memerlukan penanganan lanjutan.

Di tengah digitalisasi yang terus meluas dalam sistem kerja dan pendidikan kota, tenaga kesehatan menilai penyesuaian kebiasaan penggunaan perangkat menjadi bagian dari upaya pencegahan kesehatan publik. Langkah tersebut diharapkan membantu warga tetap produktif sekaligus menjaga kualitas penglihatan dalam jangka panjang.(frh/IN)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top