Riset Ungkap Mulut Perokok Lebih Dipenuhi Bakteri Berbahaya

INSPIRASI NUSANTARA—Merokok terbukti tidak hanya berdampak pada paru-paru dan jantung, tetapi juga memengaruhi kondisi biologis di dalam rongga mulut. Sebuah penelitian ilmiah menemukan bahwa perokok memiliki jumlah bakteri berbahaya yang lebih tinggi dibandingkan individu yang tidak merokok, sehingga meningkatkan risiko penyakit mulut dan gangguan kesehatan lainnya.

Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti yang dipimpin Guoqin Yu bersama kolega, melalui analisis mikrobioma oral, yakni komunitas bakteri yang hidup secara alami di rongga mulut manusia. Studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Microbiome dan membandingkan komposisi bakteri pada kelompok perokok dan nonperokok.

Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran signifikan pada mikrobioma oral perokok. Bakteri patogen ditemukan lebih dominan, sementara bakteri yang berperan melindungi kesehatan mulut justru berkurang. Dalam laporan risetnya, para peneliti menjelaskan bahwa merokok memicu ketidakseimbangan ekosistem bakteri di mulut.

“Perubahan dalam komunitas bakteri mulut dapat mengakibatkan ketidakseimbangan yang mempermudah bakteri berbahaya berkembang,” tulis Guoqin Yu dan tim peneliti dalam publikasi mereka. Ketidakseimbangan ini disebut berkontribusi pada meningkatnya risiko penyakit periodontal dan infeksi mulut pada perokok.

Secara biologis, mikrobioma oral berfungsi menjaga kesehatan gusi, mencegah pertumbuhan bakteri penyebab penyakit, serta mendukung sistem imun. Namun, paparan asap rokok mengubah lingkungan mulut. Zat kimia dalam rokok meningkatkan tingkat keasaman, menurunkan produksi air liur, dan melemahkan mekanisme pertahanan alami rongga mulut, sehingga menciptakan kondisi yang lebih kondusif bagi bakteri patogen.

Para peneliti menegaskan bahwa perubahan mikrobioma pada perokok bersifat konsisten, bukan sementara. Berdasarkan analisis data riset, pola bakteri pada perokok secara jelas berbeda dibandingkan dengan nonperokok, bahkan setelah mempertimbangkan faktor lain seperti usia dan kebersihan mulut.

Temuan ini memperkuat bukti ilmiah bahwa kebiasaan merokok berhubungan erat dengan risiko penyakit berbasis mikrobiologis. Dari perspektif kesehatan masyarakat, riset ini menunjukkan bahwa dampak merokok perlu dipahami secara lebih luas, termasuk pada tingkat mikrobioma, bukan hanya pada organ besar seperti paru-paru dan jantung.

Peneliti menilai bahwa upaya penghentian merokok dan edukasi kesehatan berbasis bukti ilmiah dapat membantu memulihkan keseimbangan bakteri oral. Langkah tersebut dinilai penting untuk menurunkan risiko infeksi, mencegah penyakit mulut, dan meningkatkan kualitas hidup dalam jangka panjang.(eva/IN)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top