JAKARTA, inspirasinusantara.id—Stabilitas kualitas kuliner urban saat ini menghadapi tantangan serius terkait integritas bahan baku pada produk olahan harian. Fokus utama dalam dinamika konsumsi masyarakat bukan lagi sekadar pada aspek harga murah, melainkan pada kemampuan konsumen mengidentifikasi kualitas bahan guna menghindari risiko akumulasi polutan berbahaya yang tersembunyi di balik bumbu kacang.
Identifikasi terhadap penggunaan ikan tenggiri dan ikan sapu-sapu menjadi krusial mengingat perbedaan ekosistem asal kedua spesies yang sangat kontras. Ikan tenggiri merupakan standar emas dalam industri siomay karena profil dagingnya yang bersih dan gurih, sementara ikan sapu-sapu berisiko tinggi karena sering menghuni sungai dengan tingkat polusi industri yang pekat.
Secara teknis, parameter pertama yang dapat diamati oleh pecinta kuliner adalah aspek visual atau gradasi warna produk. Siomay berbasis ikan tenggiri konsisten menampilkan warna putih cerah alami dengan tampilan serat daging yang halus. Sebaliknya, penggunaan ikan sapu-sapu cenderung menghasilkan warna kusam, keabu-abuan, atau gelap yang merupakan refleksi pigmen daging ikan pemakan dasar perairan.
Selain visual, profil aroma atau sensori penciuman menjadi indikator kejujuran sebuah produk kuliner. Ikan tenggiri memberikan aroma gurih laut yang segar dan ringan saat dikukus. Hal ini sangat berbeda dengan ikan sapu-sapu yang membawa residu aroma habitat asalnya berupa bau tanah yang pekat atau bau amis logam yang menyengat.
Ikan sapu-sapu yang hidup di habitat tercemar akan membawa aroma lumpur dan logam yang sangat khas, ujar Praktisi Kuliner, Hendra Utomo, dalam edukasinya di Jakarta. Ia menekankan bahwa meskipun produsen melakukan upaya kamuflase melalui penambahan bumbu yang dominan, jejak aroma dasar tersebut tetap akan terdeteksi pada produk yang baru matang karena sifatnya yang sulit dihilangkan.
Parameter ketiga berkaitan dengan struktur tekstur dan sensasi rasa sisa atau aftertaste saat dikonsumsi. Daging ikan tenggiri menghasilkan tekstur kenyal yang lembut dan mudah lumat secara alami. Namun, olahan ikan sapu-sapu cenderung memiliki tekstur yang lebih liat atau alot, serta sering kali menyisakan sensasi rasa pahit yang tidak nyaman di pangkal lidah setelah ditelan oleh konsumen.
Urgensi dari pemahaman karakteristik ini berkaitan erat dengan perlindungan kesehatan jangka panjang terhadap paparan logam berat seperti merkuri. Hendra Utomo menjelaskan bahwa harga jual yang terlalu jauh di bawah standar pasar patut menjadi alarm bagi konsumen untuk mempertanyakan integritas bahan baku. Menurutnya, kejujuran rasa adalah benteng utama dalam menjaga standar keamanan pangan nasional di ruang publik.
Langkah edukasi berbasis fakta fisik ini diharapkan mampu mendorong warga kota untuk lebih selektif dalam memilih konsumsi kuliner harian. Dengan menjadi konsumen yang kritis terhadap kualitas bahan, masyarakat turut berperan dalam menciptakan ekosistem pangan yang lebih transparan dan bertanggung jawab terhadap standar kesehatan publik di masa depan.(jmi/IN)