BI Beberkan Tantangan dan Rekomendasi Penguatan Ekonomi–Pengendalian Inflasi Sulsel 2026

Inflasi Sulsel
REKOMENDASI. Pihak Bank Indonesia (BI) Sulsel dari kiri ke kanan, Plt. Kepala Divisi SPPURMI BI Sulsel, Tri Adi Riyanto, Advisor BI Sulsel, Firman Hidayat, Kepala Perwakilan BI Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, Deputi Kepala Perwakilan BI Sulsel, Wahyu Purnama A, dan Kepala Divisi Implementasi KEKDA BI Sulsel, Aswin Gantina saat Bincang Bareng Media dengan tema “Mendorong Penrtumbuhan Ekonomi, Mempertahankan Stabilistas” di House of Rewako, Makassar, Jumat (20/2/2026). (foto:ist)

MAKASSAR, inspirasinusantara.id — Perekonomian Sulawesi Selatan (Sulsel) pada awal 2026 dihadapkan pada dua agenda besar: menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memastikan inflasi tetap terkendali. Data Triwulan I 2026 menunjukkan inflasi tahunan (yoy) Januari 2026 sebesar 3,50 persen, meningkat dari Desember 2025 yang tercatat 2,92 persen . Secara bulanan (mtm), inflasi mencapai 0,29 persen .

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, menjelaskan dari sisi struktur inflasi, tekanan terbesar bersumber dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, khususnya komoditas ikan-ikanan. Ikan layang mengalami inflasi 8,24 persen, ikan cakalang 7,67 persen, ikan bandeng 3,62 persen, ikan teri 12,36 persen, serta udang basah 3,86 persen . Kenaikan ini mendorong inflasi kelompok pangan melampaui target indikatif Januari sebesar 0,42 persen (year to date) .

Secara spasial, tekanan harga terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Makassar, Wajo, Sidrap, Luwu Timur, Watampone, Palopo, Parepare, dan Bulukumba .

“Pola ini menunjukkan bahwa inflasi pangan bukan fenomena terlokalisasi, melainkan berdampak luas pada sentra konsumsi dan distribusi,” ujarnya dalam Bincang Bareng Media dengan tema “Mendorong Penrtumbuhan Ekonomi, Mempertahankan Stabilistas” di  House of Rewako, Makassar, Jumat (20/2/2026).

Rizki menambahkan  bahwa tantangan pertama pengendalian inflasi adalah faktor pasokan dan distribusi, terutama akibat cuaca dan potensi gangguan produksi perikanan . Risiko banjir di beberapa wilayah Sulsel turut menjadi variabel yang perlu diantisipasi karena dapat menghambat distribusi pangan . Dengan karakter Sulsel sebagai wilayah pesisir dan kepulauan, stabilitas komoditas ikan sangat sensitif terhadap kondisi alam.

Tantangan kedua adalah tekanan musiman permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Imlek, Ramadan, dan Lebaran . Peningkatan konsumsi berpotensi memperlebar kesenjangan antara permintaan dan ketersediaan pasokan, sehingga memicu lonjakan harga jika tidak diantisipasi lebih dini.

“Dalam konteks penguatan ekonomi, stabilitas harga pangan menjadi prasyarat menjaga daya beli rumah tangga. Inflasi yang meningkat di awal tahun dapat menekan konsumsi masyarakat jika tidak diimbangi kebijakan responsif. Karena itu, pengendalian inflasi menjadi bagian integral dari strategi menjaga pertumbuhan ekonomi daerah,” jelasnya.

Untuk merespons tantangan jangka pendek, BI Sulsel merekomendasikan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) dengan prinsip “4 tepat”: tepat lokasi, tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat komoditas, khususnya pada komoditas penyumbang inflasi yang harganya melampaui harga eceran tertinggi . Strategi ini diarahkan untuk menahan ekspektasi harga sekaligus menjaga keterjangkauan.

Rekomendasi berikutnya adalah optimalisasi cold storage di lokasi Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) dan pembangunan pabrik es mini di pelabuhan strategis . Penguatan infrastruktur rantai dingin ini penting untuk menjaga kualitas dan memperpanjang daya simpan ikan, sehingga fluktuasi pasokan akibat cuaca dapat diminimalkan.

Dalam jangka menengah hingga panjang, penguatan ketahanan pangan menjadi agenda utama. Rekomendasi mencakup pemanfaatan data neraca pangan dan prakiraan cuaca untuk perencanaan distribusi, penyediaan buffer stock, serta penerbitan regulasi cadangan pangan daerah . Pendekatan berbasis data ini diharapkan mampu memperkecil risiko gejolak harga.

Selain itu, inovasi melalui digital farming dan penggunaan bibit unggul juga direkomendasikan guna meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi . Transformasi ini tidak hanya berkontribusi pada stabilitas inflasi, tetapi juga memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi sektor pangan dan perikanan.

Secara keseluruhan, data Triwulan I 2026 memperlihatkan bahwa tekanan inflasi Sulsel masih terkendali, namun rentan terhadap faktor pasokan dan musiman . Tantangan utama terletak pada menjaga keseimbangan antara ketersediaan dan permintaan pangan, terutama komoditas ikan-ikanan.

Dengan kombinasi langkah jangka pendek melalui stabilisasi harga dan penguatan infrastruktur distribusi, serta strategi jangka panjang berbasis data dan inovasi produksi, Sulsel memiliki peluang menjaga inflasi dalam rentang terkendali sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026. (*/IN)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top