Budaya Basa-basi Hambat Komunikasi Orang dengan Penderita Autisme

INSPIRASI NUSANTARA—Budaya basa-basi dan sikap sungkan dalam interaksi sosial dinilai menghambat komunikasi orang dengan autisme. Temuan ini muncul dari kajian komunikasi yang menelaah relasi antara norma budaya dan pengalaman sosial kelompok neurodivergen, khususnya dalam percakapan sehari-hari.

Kajian tersebut menjelaskan bahwa orang dengan autisme cenderung memproses bahasa secara literal dan mengandalkan kejelasan pesan. Dalam situasi komunikasi yang dipenuhi basa-basi, ungkapan sopan tanpa tujuan langsung, atau makna tersirat, pesan kerap tidak sampai sebagaimana dimaksudkan oleh lawan bicara.

Peneliti Pusat Riset Kependudukan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan bahwa norma sosial yang mengutamakan kesopanan tidak selalu bersifat netral. “Bahasa yang berputar dan penuh isyarat sosial justru menciptakan hambatan tambahan bagi orang dengan autisme, bukan karena keterbatasan mereka, tetapi karena sistem komunikasi yang tidak inklusif,” demikian temuan kajian tersebut.

Dalam konteks budaya yang menjunjung tinggi keharmonisan dan keramahan, basa-basi sering dipersepsikan sebagai keharusan sosial. Namun bagi orang dengan autisme, situasi ini dapat menimbulkan kebingungan dan tekanan psikologis. Mereka dituntut menafsirkan maksud yang tidak diucapkan secara eksplisit, yang berisiko memicu kelelahan sosial.

Dampaknya tidak berhenti pada miskomunikasi. Kajian tersebut mencatat bahwa perbedaan gaya komunikasi sering kali disalahartikan sebagai ketidakmampuan bersosialisasi. Respons yang singkat atau langsung dari orang dengan autisme kerap dinilai tidak sopan atau tidak ramah, padahal hal itu mencerminkan preferensi komunikasi yang berbeda.

Peneliti menegaskan bahwa persoalan utama tidak semata berada pada individu dengan autisme, melainkan pada lingkungan sosial yang belum sepenuhnya menyesuaikan diri dengan keragaman cara berkomunikasi. Sistem sosial yang mengharuskan kepatuhan pada norma basa-basi berpotensi mengecualikan kelompok neurodivergen dari partisipasi sosial yang setara.

Sebagai solusi, kajian ini merekomendasikan pendekatan komunikasi yang lebih lugas, jelas, dan minim makna tersirat. Penyesuaian tersebut dinilai relevan diterapkan di ruang publik, institusi pendidikan, layanan kesehatan, hingga dunia kerja agar komunikasi dapat diakses oleh lebih banyak orang.(eva/IN)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top