Di Balik Kelezatan Makanan Kekinian Ada Banyak Jejak Karbon di Makassar

Jejak Karbon
RAMAI. Suasana Pasar Cidu Makassar yang menyediakan jajanan makanan kekinian ramai dikunjungi, Minggu (24/05/2025). (foto:dok.inspirasinusantara)

Matahari senja memantulkan rona emas di atas aspal Makassar yang belum jemu menanggung beban langkah, Kamis (29/05/2025). Di antara deru motor, klakson angkot, dan aroma gorengan yang menyelinap dari trotoar Pasar Cidu, di Tabaringan, Kecamatan Ujung Tanah, Rifka mulai mengangkat meja dagangannya.

Ia bukan hanya pedagang corndog. Ia adalah bagian dari lanskap konsumsi urban yang kini menggeliat dalam nama-nama menu Instagramable dan rasa-rasa viral yang menular seperti demam.

Di Jl Kumala, Mas Juprianto, dengan sabar menata pempek atau mepek-mpek yang jadi dagangannya. Ia sudah 25 tahun menjual pempek, dari masa ketika belum ada Instagram hingga sekarang, ketika makanan bisa viral dalam semalam.

Setiap hari, ia merebus 9–10 kilogram adonan. Semua diolah dari rumah bersama istrinya, lalu dibawa ke lapak di Kumala, tempatnya menunggu pelanggan dari generasi Z hingga pensiunan.

“Dulu orang beli karena memang lapar, sekarang kadang karena viral. Tapi saya tetap jual dengan cara lama. Bahan segar, rasa tetap, itu yang jaga pelanggan tetap datang,” ucap Mas Juprianto, sembari menata botol cuko yang mulai mengembun dingin.

Namun, di balik kelezatan makanan-makanan ini, ada sesuatu yang lebih sunyi namun membesar di latar: jejak karbon. Sesuatu yang tak terlihat tapi perlahan memengaruhi masa depan bumi.

BACA JUGA: Ngopi juga Meninggalkan Jejak Karbon di Makassar


Prof Nita Rukminasari, Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin yang juga pemerhati lingkungan, mengungkapkan bahwa sektor pangan secara global menyumbang sekitar 26–30% emisi gas rumah kaca. Dari produksi, distribusi, pengolahan, hingga konsumsi, semua menyisakan tapak tak kasat mata yang menumpuk di atmosfer.

Di kota-kota seperti Makassar, kontribusi sektor pangan terhadap jejak karbon menjadi lebih kompleks. “Penduduk urban cenderung mengonsumsi makanan siap saji, daging, dan makanan olahan yang tinggi jejak karbon,” kata Prof. Nita.

Bukan hanya soal jenis makanannya, tetapi juga bagaimana makanan itu sampai ke tangan konsumen: melalui rantai pasok panjang, pengemasan plastik, dan pendinginan intensif.

Masuklah ke dunia para konsumen muda, seperti Nur Anni Haya dari Mannuruki 3. “Saya lebih suka makanan kekinian, lebih cocok di lidah dan praktis didapat,” ujarnya.

Ia sadar akan dampak lingkungan dari pilihan makannya. Bahkan, ia mulai membawa wadah sendiri, meskipun belum rutin.

Sementara itu, Azzahra Sosila, mahasiswa UNM, mengaku terpengaruh promosi media sosial. Namun, ia pun mulai memilih opsi yang lebih ramah lingkungan. “Saya percaya makanan ramah lingkungan bisa membantu mengurangi dampak pada bumi,” katanya yakin.

Namun, bagaimana makanan bisa berbicara lebih dari sekadar rasa? Anshar Aminullah, sosiolog dan akademisi, menyebut bahwa makanan kini telah menjadi representasi status sosial dan identitas kelas.

“Warung sering dipersepsikan sebagai tempat makan kelas menengah ke bawah. Sedangkan makanan mahal atau viral menjadi simbol prestise,” jelasnya.

Bagi sebagian warga kota, makan bukan sekadar mengenyangkan, tapi juga mengangkat gengsi. Bahkan orang tua pun bisa tergiring oleh citra kelas yang dibentuk oleh tempat dan menu.

Tak hanya itu, perubahan gaya hidup kota telah menjadikan makanan cepat saji dan layanan pesan antar sebagai solusi atas keterbatasan waktu. Tapi di balik itu semua, perlahan-lahan, hubungan emosional terhadap makanan rumah, hasil masakan sendiri, mulai menghilang. “Itu merusak ikatan emosional dalam keluarga,” tambah Anshar.

Sementara itu, Yayang Malil,  pendiri Berdaur.id, melihat kegelisahan yang sama dari sudut berbeda. Ia menyebut kesadaran masyarakat kota tentang jejak karbon makanan masih rendah.

“Orang mulai sadar tentang sedotan stainless, tapi lupa kalau satu gelas kopi susu kekinian juga punya jejak karbon besar. Mulai dari tanam, kirim, masak, sampai bungkus plastik dan akhirnya dibuang,” katanya. Bayangkan jika satu orang minum kopi kekinian tiap hari, itu bisa berarti 30 gelas plastik per bulan, dikalikan ribuan orang di satu kota.

Lewat inisiatif seperti Berdaur, Yayang mencoba mengedukasi publik dan mendorong pemanfaatan kemasan ramah lingkungan, dari daun pisang hingga wadah daur ulang. Tapi ia sadar, gerakan ini belum masif.

Jejak Karbon
PADAT. Suasana Pasar Cidu yang begitu padat didatangi pembeli, Sabtu, 24 Mei 2025. (foto:dok.inspirasinusantara)

Banyak pelaku usaha kecil seperti Rifka yang mulai beralih ke kemasan ramah lingkungan, namun terkendala biaya. “Kemasan itu lebih mahal. Saya harus hitung baik-baik agar tetap bisa bersaing,” ujar Rifka, mencelupkan sosis keju ke adonan.

“Saya sempat coba pakai kemasan kertas dan sedotan kertas. Tapi harganya dua kali lipat. Kalau semua pelanggan sadar dan mau bantu, mungkin bisa jalan terus. Tapi sekarang belum semua begitu,” kata Rifka, sambil mengangkat corndog dari minyak panas.

Namun harapan tetap ada. Makanan tradisional—yang kini tersingkir oleh tren kuliner global—menjadi alternatif yang tak hanya lezat tapi juga lestari. Barongko, buras, pisang ijo, semua ini lahir dari bahan lokal, minim proses industri, dan dikemas dengan daun. Menjadi bukti bahwa kuliner bisa berbicara soal kearifan, bukan sekadar keviralan.

Sosiolog Anshar melihat ini sebagai bentuk perlawanan halus: makanan lokal yang bertahan di tengah gempuran tren Korea, Jepang, hingga Chinese food yang sudah ‘dimodifikasi lidah lokal’. “Ini bukti identitas kita belum benar-benar hilang,” ujarnya.

Kini, pertanyaannya bukan hanya “makan apa hari ini?”, tapi juga “apa dampaknya bagi bumi?” dan “apa nilai yang kita bawa dalam setiap gigitan itu?”. Karena seperti kata Yayang, “tiap tegukan, tiap gigitan, ada jejaknya.” Dan di kota seperti Makassar yang tak pernah tidur, jejak itu bisa jadi warisan—entah untuk kebaikan, atau untuk bencana yang kita wariskan diam-diam. (*)

Reporter: Muh Nur Ardiansyah

Editor: Farisal

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top