Di Balik Tren Air Mawar, Bukti Medis Dipertanyakan

JAKARTA, inspirasinusantara.id— Meningkatnya penggunaan air mawar sebagai bahan perawatan kesehatan dan kecantikan di kawasan perkotaan kembali menjadi perhatian tenaga medis. Produk herbal tersebut semakin mudah dijumpai di gerai kosmetik dan platform belanja daring, seiring naiknya minat masyarakat terhadap bahan alami untuk perawatan kulit sehari-hari. Kalangan kesehatan menilai tren ini perlu dibaca secara proporsional berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia.

Dokter kulit di Jakarta, dr. Rina Wulandari, mengatakan air mawar memang mengandung antioksidan dan memiliki sifat antiinflamasi ringan. “Secara teori, kandungan ini bisa membantu menenangkan kulit yang kemerahan atau sensitif. Tetapi sebagian besar bukti ilmiah masih berasal dari penelitian awal, bukan uji klinis besar pada manusia,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam praktik kedokteran, suatu bahan baru dapat direkomendasikan secara luas setelah melalui serangkaian riset terkontrol dengan hasil konsisten. Menurut Rina, temuan laboratorium mengenai ekstrak bunga mawar belum cukup kuat untuk menempatkan air mawar sebagai terapi utama dalam penanganan gangguan kesehatan tertentu.

Pandangan serupa disampaikan dokter umum di Jakarta Selatan, dr. Andri Prasetyo. Ia menilai meningkatnya konsumsi air mawar mencerminkan perubahan perilaku warga kota yang semakin aktif memilih produk kesehatan secara mandiri. “Produk herbal, termasuk air mawar, sebaiknya dipakai sebagai pelengkap, bukan pengganti pengobatan medis,” katanya.

Selain efektivitas, Andri menyoroti aspek keamanan yang kerap luput dari perhatian publik. Ia mengatakan reaksi alergi atau iritasi ringan masih mungkin terjadi, terutama pada individu dengan kulit sensitif. Ia juga mengingatkan bahwa komposisi air mawar di pasaran tidak seragam karena sebagian produk mengandung pengawet atau bahan tambahan lain, sehingga efeknya dapat berbeda antarindividu.

Seorang pengamat kesehatan publik menilai maraknya penggunaan air mawar di ruang urban memperlihatkan tantangan literasi kesehatan di tengah derasnya arus informasi digital. Ia menjelaskan bahwa warga kota kerap menerima klaim manfaat dari media sosial atau promosi daring tanpa disertai penjelasan mengenai batasan ilmiah, standar keamanan, maupun potensi risiko penggunaan jangka panjang.

Tenaga medis pun mengimbau masyarakat untuk berkonsultasi apabila mengalami keluhan kulit yang tidak membaik atau gangguan kesehatan yang berlangsung lama. Air mawar, menurut mereka, masih dapat digunakan untuk perawatan ringan selama tidak menimbulkan reaksi merugikan dan dipakai secara bijak sesuai kondisi masing-masing individu.

Hingga kini, air mawar dipandang memiliki potensi manfaat tertentu, terutama dalam konteks kosmetik dan perawatan kulit sehari-hari. Namun, efektivitasnya dinilai masih memerlukan pembuktian lanjutan melalui penelitian klinis yang lebih kuat agar masyarakat dapat mengambil keputusan berbasis informasi, bukan semata mengikuti tren pasar. (frh/IN)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top