Es Pisang Ijo, Ikon Kuliner Tradisional Makassar yang Tak Pernah Absen di War Takjil

Penulis: Rismawati

Menjelang waktu berbuka puasa, suasana sore di Kota Makassar selalu dipenuhi geliat khas Ramadan. Jalanan mulai padat oleh warga yang berburu hidangan berbuka, sementara lapak-lapak takjil bermunculan di berbagai sudut kota. Aroma makanan manis berpadu dengan hembusan angin laut yang lembap, menciptakan suasana senja yang hangat dan akrab. Di tengah beragam pilihan takjil, es pisang ijo hampir tak pernah absen menjadi incaran utama warga yang ingin menyegerakan berbuka dengan sajian segar.

Es pisang ijo merupakan kuliner khas Makassar yang telah lama menjadi identitas daerah ini. Sajian ini terbuat dari pisang raja utuh yang dibalut adonan tepung beras dan santan berwarna hijau cerah, kemudian dikukus hingga matang. Tekstur balutannya lembut, sementara bagian dalam pisang terasa legit dan manis. Proses pembuatannya yang masih mempertahankan cara tradisional menjadikan es pisang ijo bukan sekadar makanan, tetapi juga warisan kuliner yang terus dijaga keberadaannya.

Bagi sebagian besar masyarakat Makassar, es pisang ijo sudah menjadi menu wajib saat berbuka puasa. Banyak pembeli rela datang lebih awal demi mendapatkan seporsi es pisang ijo favorit mereka. Tidak jarang, beberapa lapak kehabisan dagangan sebelum waktu berbuka tiba. Kondisi ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap jajanan tradisional tersebut, sekaligus menandai kuatnya ikatan emosional antara warga Makassar dan es pisang ijo.

Ratna (20), salah seorang pembeli, mengaku selalu menyempatkan diri membeli es pisang ijo selama bulan Ramadan. Menurutnya, rasa manis dan segar dari es pisang ijo menjadi pilihan yang paling pas setelah seharian berpuasa. “Rasanya segar dan manis, cocok sekali dimakan setelah seharian puasa. Setiap Ramadan saya pasti cari es pisang ijo, meski harus antre lama,” ujar Ratna saat ditemui di salah satu lapak takjil.

Fenomena “war takjil” es pisang ijo pun kerap terlihat menjelang waktu berbuka. Antrean panjang pembeli, suasana lapak yang ramai, hingga obrolan ringan antarwarga menciptakan nuansa kebersamaan yang khas. Di tengah kesibukan kota, es pisang ijo seolah menjadi medium yang mempertemukan banyak orang, menghadirkan interaksi sosial sederhana namun bermakna.

Es pisang ijo juga menyimpan jejak sejarah panjang. Hidangan ini dipercaya telah ada sejak masa Kerajaan Gowa Tallo. Pada masa itu, pisang ijo hanya disajikan dalam acara keluarga bangsawan sebagai simbol kemakmuran dan kebahagiaan. Balutan hijau yang digunakan berasal dari daun pandan alami yang melambangkan kesuburan tanah Makassar, sementara pisang raja matang dipilih karena rasa manis, tekstur lembut, dan aroma khasnya

Kini, es pisang ijo tidak lagi terbatas pada kalangan tertentu. Ia hadir di tengah masyarakat sebagai simbol Ramadan di Makassar, menyimpan cerita tentang tradisi, sejarah, dan kebersamaan yang terus bertahan di tengah arus modernisasi. Setiap porsinya tidak hanya menghadirkan rasa manis dan segar, tetapi juga menghadirkan suasana berbuka puasa yang selalu dirindukan oleh masyarakat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top