Identitas Berbeda di Balik Mangkok Coto dan Pallubasa Makassar

MAKASSAR, inspirasinusantara.id-Industri kuliner di Kota Makassar tengah mengalami perubahan pola konsumsi pada dua hidangan ikonik, Coto Makassar dan Pallubasa. Dinamika masyarakat urban saat ini menunjukkan bahwa pilihan warga terhadap hidangan berbasis daging sapi tersebut tidak lagi hanya didorong oleh faktor rasa tradisional. Fenomena ini mengungkap adanya Identitas Berbeda di Balik Mangkok Coto dan Pallubasa yang bergeser pada aspek fungsional serta pengalaman sensorik warga kota yang produktif.

Perubahan pola konsumsi ini terlihat jelas dari preferensi konsumen yang kini menjadikan tekstur kuah sebagai pertimbangan utama. Coto Makassar tetap mempertahankan karakteristik penggunaan kacang tanah goreng halus untuk menghasilkan rasa gurih yang lembut. Sementara itu, Pallubasa yang menggunakan kelapa parut sangrai atau alas memberikan dimensi rasa lebih kasar dengan aroma asap yang kini semakin diminati pasar modern.

Sejarawan dan pengamat kuliner, Fadly Rahman, menjelaskan bahwa tren konsumsi saat ini sangat dipengaruhi oleh kecepatan ritme hidup masyarakat urban di Makassar. Menurutnya, tekstur unik dari kelapa sangrai memberikan kepuasan indrawi yang lebih cepat diterima oleh lidah generasi baru yang terbiasa dengan cita rasa kuat dan tegas.

“Masyarakat produktif di Makassar saat ini cenderung mencari pengalaman tekstur yang nyata dan praktis. Pallubasa dengan tambahan alas telur dan nasi putih menawarkan palatabilitas instan yang dinilai lebih efisien dalam memenuhi kebutuhan energi dibandingkan kuah kacang pada Coto,” ujar Fadly dalam tinjauan sosiologi kulinernya.

Lebih lanjut, Fadly memaparkan bahwa terdapat Identitas Berbeda di Balik Mangkok Coto dan Pallubasa jika dilihat dari perspektif sosiologis. Dahulu, Coto Makassar dipandang sebagai hidangan kelas atas, sementara Pallubasa identik dengan konsumsi pekerja kasar. Namun, saat ini batasan tersebut telah melebur seiring dengan faktor penyajian yang menempatkan Pallubasa dan nasi putih sebagai pilihan utama untuk pola makan cepat masyarakat urban.

Meskipun demikian, Coto Makassar tetap menjaga posisinya sebagai simbol otentisitas dan seremoni budaya melalui formula rampah patang pulo atau 40 macam rempah. Fadly menyebutkan bahwa Coto tetap menjadi rujukan bagi kelompok masyarakat yang memprioritaskan nilai sejarah dan khasiat rempah, mempertegas bahwa terdapat akar budaya serta Identitas Berbeda di Balik Mangkok Coto dan Pallubasa.

Adaptasi terhadap ritme hidup warga kota kini menjadi kunci keberlanjutan ekonomi kreatif di Sulawesi Selatan. Munculnya berbagai gerai Pallubasa di kawasan komersial dan pusat perbelanjaan mewah membuktikan bahwa identitas kuliner lokal telah berhasil bertransformasi menjadi bagian dari gaya hidup kelas menengah yang dinamis.

Fenomena pergeseran tren ini diprediksi akan memberikan dampak positif bagi stabilitas ekonomi daerah melalui optimalisasi bahan baku lokal. Penekanan pada substansi produk dan adaptasi terhadap preferensi konsumen menjadi strategi krusial bagi pelaku usaha kuliner di Makassar agar tetap kompetitif dalam menghadapi penetrasi tren makanan global di masa depan.(jmi/IN)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top