Inspirasinusantara.id – Di balik gaya berpakaian yang trendi, industri mode menyimpan persoalan lingkungan yang tak kasat mata: jejak karbon. Proses produksi pakaian terutama denim memiliki rantai pasokan yang kompleks, menjadikannya sulit dilacak dari hulu ke hilir.
Mulai dari budidaya bahan baku, proses pembuatan, distribusi, hingga tahap pembuangan, semua menyumbang jejak karbon yang signifikan. Setiap musim, dunia fashion mendorong konsumen untuk terus memperbarui isi lemari mereka.
Akibatnya, pola konsumsi ini memicu budaya “fast fashion” yang memperparah jejak karbon dari sektor tekstil. Bahkan menurut data Levi Strauss, satu celana jeans menghasilkan sekitar 33,4 kilogram emisi karbon dioksida sepanjang masa pakainya—setara dengan mobil yang menempuh jarak 110 kilometer.
Yang mengejutkan, lebih dari sepertiga emisi tersebut berasal dari produksi serat dan kain. Sementara 40% lainnya justru muncul dari pemakaian konsumen: mencuci, mengeringkan, dan membuang pakaian ke tempat sampah. Artinya, jejak karbon tak hanya ditentukan oleh produsen, tetapi juga perilaku konsumen.
Celana Jeans: Meningkatkan Beban Lingkungan.
Jeans, khususnya yang berbahan elastana atau denim stretch, menggunakan serat sintetis berbasis plastik. Meski memberi kenyamanan, bahan ini sulit terurai dan tidak mudah didaur ulang, meningkatkan beban lingkungan.
Baca juga : Jejak Karbon si Kaya: Bumi Rusak, Mereka Tetap Berpesta
Pembuatan satu celana jeans juga menyedot air dalam jumlah besar. Diperkirakan, dibutuhkan sekitar 7.500 hingga 10.000 liter air hanya untuk menghasilkan satu kilogram kapas—setara dengan kebutuhan air minum manusia selama satu dekade. Kapas yang ditanam di wilayah kering pun memperparah kelangkaan air.
Solusi: Beli Lebih Bijak, Rawat Lebih Lama
Mengurangi dampak lingkungan dari denim bisa dimulai dengan memilih produk yang:
1. Menggunakan bahan alami murni (tanpa elastana),
2. Diproses tanpa pemutihan berlebih, sandblasting, atau pra-pencucian,
3 Diproduksi secara berkelanjutan dan etis.
4. Beberapa produsen kini juga mulai mengembangkan jeans yang bisa dikompos, atau sistem daur ulang denim agar tidak berakhir di TPA.
Belanja Online: Solusi atau Masalah Baru?
Meski belanja daring dinilai bisa mengurangi jejak karbon karena menghemat perjalanan ke toko fisik, muncul fenomena baru: konsumen membeli berlebihan, lalu mengembalikan sebagian besar produk.
Ini tidak hanya menambah emisi dari transportasi bolak-balik, tetapi juga mempercepat laju konsumsi dan produksi
Menutup Rantai dengan Kesadaran
Lynn Wilson, peneliti ekonomi sirkular dari Universitas Glasgow, mengingatkan bahwa solusi tidak hanya terletak pada bahan pakaian, tetapi juga perilaku konsumen.
“Yang dibutuhkan adalah perubahan cara kita membeli, merawat, dan membuang pakaian.” dikutip dari CNBC.
Di tengah derasnya arus mode cepat, langkah kecil seperti membeli lebih sedikit, memilih dengan bijak, dan merawat pakaian lebih lama bisa menjadi kontribusi besar dalam menyelamatkan bumi dari jejak karbon industri mode. (*/IN)