Penulis: Nirwanda
Di Desa Jampu, Kabupaten Pinrang, pohon pisang tumbuh hampir di setiap pekarangan rumah warga. Tanaman ini sudah seperti bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Pada waktu-waktu tertentu, pisang di kampung ini bahkan berbuah bersamaan. Melimpahnya hasil panen sering kali membuat harga pisang turun di pasaran, hingga tak sedikit warga memilih untuk tidak menjualnya.
Ketimbang menjual pisang dengan harga murah, masyarakat Desa Jampu lebih memilih mengolahnya menjadi Barongko, kue tradisional yang sudah lama dikenal dan digemari. Dari dapur rumah sederhana, pisang-pisang matang itu diolah menjadi makanan manis yang bisa dinikmati bersama keluarga, sekaligus dibagikan kepada tetangga sekitar.
“Kalau pisang lagi banyak-banyaknya, biasa kami bikin barongko. Daripada dijual murah, lebih enak dimakan sama-sama,” ujar Nurhaeda, salah seorang warga Desa Jampu yang kerap membuat barongko di rumahnya. Menurutnya, membuat barongko juga menjadi cara warga menjaga kebiasaan saling berbagi di kampung.
Barongko berasal dari ungkapan “barangku mua udoko” yang berarti barangku sendiri yang kubungkus. Barongko dikenal sebagai kuliner khas yang memiliki cita rasa legit dengan aroma pisang yang sangat kuat, dibuat menggunakan bahan utama pisang raja atau pisang kepok, yang dicampur dengan telur, gula pasir, dan santan.
Setelah adonan siap, barongko dibungkus menggunakan daun pisang lalu dikukus. Proses ini menghadirkan aroma khas daun pisang yang menyatu dengan adonan, sekaligus menjadi kunci kelezatan barongko yang lembut dan harum saat disantap.
Selain lezat, barongko juga memiliki manfaat sebagai sumber energi karena berbahan dasar pisang yang kaya karbohidrat. Kandungan pisang, telur, dan santan membuat kue ini cukup mengenyangkan, sehingga kerap menjadi pilihan camilan rumahan untuk menemani aktivitas sehari-hari masyarakat Desa Jampu.
Bagi masyarakat Desa Jampu, barongko bukan sekadar camilan. Kue ini kerap hadir dalam berbagai momen, mulai dari teman minum teh sore hingga sajian pada acara syukuran dan perayaan masyarakat. “Kalau ada acara keluarga atau kumpul-kumpul, barongko pasti ada. Mudah dibuat dan semua orang suka,” kata Irma, warga setempat.
Dari barongko, banyak nilai kebaikan yang lahir. Kue sederhana ini menjadi simbol kebersamaan, rasa syukur atas hasil alam, serta kebiasaan berbagi yang masih terjaga di tengah masyarakat. Di saat harga pisang tak menentu, warga Jampu justru menemukan cara lain untuk menjaga kehangatan sosial di kampung mereka.