Penulis: Zhafirah Yunus
Di sejumlah kampung di Sulawesi Selatan, membangun rumah bukan semata urusan keluarga pemiliknya. Ketika sebuah tiang pertama ditegakkan atau atap mulai dirangkai, warga sekitar akan datang tanpa undangan resmi. Ada yang membawa palu, ada yang mengangkat kayu, ada pula yang sekadar menyuguhkan air minum. Tradisi ini dikenal sebagai mendre bolasebuah praktik gotong royong yang telah lama hidup dalam masyarakat Bugis-Makassar.
Mendre bola secara harfiah merujuk pada kegiatan membantu membangun atau memperbaiki rumah secara bersama-sama. Namun, maknanya jauh melampaui kerja fisik. Dalam tradisi ini, rumah tidak dipandang sebagai ruang privat semata, melainkan bagian dari kehidupan kolektif. Setiap dinding yang berdiri seakan menjadi simbol hubungan sosial yang saling menguatkan.
Bagi masyarakat Bugis-Makassar, mendre bola berakar pada nilai sipakatau—saling memanusiakan. Nilai ini menempatkan setiap orang dalam posisi setara, tanpa memandang status sosial atau ekonomi. Saat mendre bola berlangsung, tidak ada pembagian peran berdasarkan kedudukan. Semua bekerja sesuai kemampuan, menegaskan bahwa kebersamaan lebih utama daripada perbedaan.
Selain sipakatau, tradisi ini juga merefleksikan semangat siri’ na pacce. Siri’ dimaknai sebagai harga diri, sementara pacce merujuk pada empati dan solidaritas. Membantu tetangga membangun rumah bukan hanya bentuk kepedulian, tetapi juga upaya menjaga martabat sosial bersama. Ketika satu keluarga kesulitan, masyarakat merasa memiliki tanggung jawab moral untuk hadir dan membantu.
Dalam praktiknya, mendre bola tidak hanya menghadirkan tenaga, tetapi juga mempererat komunikasi antargenerasi. Orang tua berbagi pengalaman, pemuda belajar keterampilan, dan anak-anak menyaksikan langsung nilai kebersamaan yang diwariskan. Proses ini menjadikan mendre bola sebagai ruang belajar sosial yang alami dan berkelanjutan.
Namun, seiring perubahan zaman, tradisi ini mulai menghadapi tantangan. Urbanisasi, pola kerja individual, serta ketergantungan pada jasa profesional perlahan menggeser praktik gotong royong. Di beberapa wilayah, mendre bola kini hanya dilakukan pada momen tertentu atau oleh lingkaran terbatas. Meski demikian, di banyak desa, tradisi ini masih bertahan sebagai penanda identitas dan solidaritas sosial.
Keberlanjutan mendre bola menunjukkan bahwa kearifan lokal tidak selalu harus hadir dalam bentuk upacara besar atau simbol adat yang megah. Ia justru hidup dalam tindakan sederhana yang dilakukan bersama. Di tengah masyarakat yang kian individualistis, mendre bola mengingatkan bahwa rumah bukan hanya tempat berteduh, tetapi juga ruang perjumpaan, kepedulian, dan kebersamaan.
Melalui mendre bola, masyarakat Bugis-Makassar merawat lebih dari sekadar bangunan fisik. Mereka menjaga ikatan sosial, meneguhkan nilai kemanusiaan, dan mewariskan cara hidup yang menempatkan solidaritas sebagai fondasi utama. Tradisi lama ini menjadi bukti bahwa gotong royong bukan sekadar konsep, melainkan praktik hidup yang terus relevan hingga kini.