Ketukan Kecil Anak Kampung Tallunglipu Toraja, Kearifan Lokal Sulsel yang Selalu Datang di Awal Tahun

Kearifan Lokal Sulsel
MENARIK. Anak-anak berjalan bersama di Kelurahan Tagari, Kecamatan Tallunglipu, Toraja Utara. (foto:ist)

Penulis: Elva Eva Sampe

PAGI di Kelurahan Tagari, Kecamatan Tallunglipu, Toraja Utara, selalu datang dengan cara yang sama setiap pergantian tahun. Kabut tipis masih menggantung di udara ketika suara langkah kecil mulai terdengar menyusuri jalan kampung. Tidak keras, tidak tergesa, tetapi cukup untuk membangunkan ingatan tentang hari yang berbeda dari hari-hari lain.

Anak-anak berjalan beriringan. Pakaian terbaik versi mereka dikenakan dengan penuh kebanggaan, ada yang sedikit kebesaran, ada yang tampak sudah beberapa kali diwariskan. Namun pagi itu, tidak ada yang merasa kurang. Wajah-wajah mereka bersih, mata menyimpan semangat yang belum sempat disentuh lelah.

Mereka tahu persis ke mana harus melangkah. Jalan sempit yang dilalui bukan sekadar jalur kampung, melainkan peta ingatan yang telah dihafal sejak kecil. Rumah yang cepat membuka pintu, rumah yang perlu diketuk dua kali, rumah yang penghuninya selalu menyapa lebih dulu. Semua tersimpan rapi di kepala mereka.

Satu per satu pintu diketuk. Ketukan dilakukan pelan, disusul salam yang diucapkan serempak dengan nada ceria namun sopan. Tidak ada aba-aba, tetapi iramanya selalu sama. Seolah sudah ada kesepakatan tak tertulis tentang bagaimana hari itu harus dijalani.

Dari balik pintu, senyum muncul lebih dulu. Tangan orang-orang dewasa meraih apa saja yang tersedia di rumah (toples kue), bungkus permen, atau camilan sederhana. Tidak ada pertanyaan, tidak ada syarat. Memberi berjalan seperti kebiasaan lama yang tak perlu dipikirkan ulang.

Anak-anak menerima apa pun yang diberikan dengan dua tangan. Tidak memilih, tidak menawar. Yang mereka bawa bukan hanya isi kantong kecil, tetapi perasaan diterima sebagai bagian dari kampung.

“Biasanya kami sudah hafal rumah mana yang cepat buka pintu,” ujar Chaterine, salah satu anak yang ikut berjalan pagi itu. Ia mengatakannya sambil tersenyum, seolah hafalan itu adalah pengetahuan bersama yang diwariskan begitu saja.

Tradisi ini, kata Chaterine, dilakukan setiap Tahun Baru. Sejak pagi mereka berjalan berkelompok, berpindah dari satu rumah ke rumah lain di dalam kampung. Tidak ada yang mengatur, tetapi semua tahu waktunya.

Ketika kantong-kantong kecil mulai terisi, anak-anak berhenti sejenak di persimpangan jalan. Isinya diperlihatkan bukan untuk dibandingkan, melainkan untuk dibagi. Jika ada yang kurang, tangan lain akan bergerak lebih dulu. Tidak ada perhitungan, tidak ada rasa memiliki yang berlebihan.

Di dalam rumah-rumah, warga menerima kedatangan anak-anak sebagai bagian dari hari itu. Memberi tidak dianggap sebagai beban, melainkan sebagai cara menyambut waktu yang baru. Tahun tidak dirayakan dengan suara keras, tetapi dengan memastikan pintu terbuka.

Menjelang sore, langkah-langkah kecil mulai melambat. Kaki terasa pegal, tetapi cerita belum habis. Setiap rumah meninggalkan kesan, setiap senyum menjadi bahan obrolan sepanjang jalan pulang.

Bagi warga Tallunglipu, Tahun Baru tidak diukur dari kembang api atau hitungan mundur. Ia dijalani melalui kebiasaan yang terus diulang, melalui anak-anak yang belajar tentang kebersamaan tanpa perlu diberi nama.

“Semoga nanti masih bisa begini terus,” kata Chaterine sebelum kembali berlari menyusul teman-temannya.

Di situlah Kearifan Lokal Sulsel hidup dalam ketukan kecil yang sederhana, tetapi terus bekerja menjaga hubungan antar warga dari satu generasi ke generasi berikutnya. (*/IN)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top