MAKASSAR, Inspirasinusantara – Setiap pagi, Fatmalasari memulai hari seperti kebanyakan orang: menyiapkan makan, mengajar les, dan kembali ke rumah tempat ia tinggal bersama keluarga.
Namun hampir setiap malam, ada satu hal yang hampir selalu tersisa di dapur mereka – makanan. Bukan karena tak enak, bukan pula karena tak ada yang lapar, melainkan karena terlalu banyak yang dimasak.
“Ada saja yang tidak habis. Kadang-kadang basi,” ujar Fatmalasari, 22 tahun, dengan nada datar.
Ia tidak tampak merasa bangga atas pengakuan itu, tapi juga tidak terdengar heran. Membuang makanan, baginya, adalah bagian dari ritme harian, walau tidak pernah terasa benar.
Fatmalasari bukan pengecualian. Dalam banyak rumah tangga Indonesia, terutama yang masih memasak sendiri, pemborosan makanan sering terjadi karena perhitungan yang keliru.
Terlalu banyak nasi, sayur yang cepat layu, lauk yang tak disentuh anak. Makanan sisa akhirnya dimasukkan ke kantong plastik, dan dilempar ke tempat sampah—atau jika sedikit lebih beruntung, diberikan kepada kucing-kucing kampung.
Baca juga: Di Balik Kelezatan Makanan Kekinian Ada Banyak Jejak Karbon di Makassar
“Kadang saya taruh di tempat yang gampang dijangkau kucing,” katanya.
“Supaya tidak terlalu sia-sia.”
Kendati begitu, ada rasa bersalah yang mengendap. Ia bukan hanya soal makanan yang terbuang, tapi tentang kerja keras orang tua mencari nafkah, nilai dari setiap rupiah yang dibelanjakan, dan rasa tidak enak hati melihat makanan tak tersentuh.
Baca juga: Kesehatan Warga Tergerus Krisis Iklim Makassar
“Saya pernah merasa bersalah,” ujar Fatmalasari. “Karena orang tua sudah kerja keras untuk uang makan.”
Bersalah, tetapi tetap terulang. Itu yang membuat soal food waste—limbah makanan—menjadi persoalan sosial sekaligus pribadi. Tidak selalu karena abai, kadang karena sistem dan kebiasaan yang tak mudah diubah.
Meski demikian, kesadaran tampaknya mulai tumbuh. Fatmalasari, misalnya, mengakui bahwa ia melihat tindakan membuang makanan bukan hanya sebagai hal biasa.
“Itu bentuk boros, dan tidak menghargai makanan,” tegasnya.
Ia juga menyambut positif ide-ide baru soal penyelamatan makanan, seperti redistribusi makanan sisa ke orang yang membutuhkan, atau aplikasi yang bisa menyalurkan makanan sebelum basi.
“Kalau ada aplikasi semacam itu, saya tertarik ikut,” ujarnya mantap.
Namun, ia percaya bahwa tanggung jawab tidak hanya ada pada negara atau industri makanan. Perubahan dimulai dari diri sendiri.
“Menurut saya, peran individu sangat besar dalam mengurangi food waste,” kata Fatmalasari.
Dari Piring Mahasiswa ke Tempat Sampah Kota
Di sebuah rumah kos di kawasan BTP, Makassar, Khilfatul Ilmi duduk di meja belajarnya, dikelilingi buku-buku kuliah dan kotak-kotak makanan ringan. Ia baru saja pulang dari kampus UIN Alauddin dan mengakui bahwa dalam seminggu terakhir, ia telah membuang makanan sebanyak tiga sampai empat kali.
Sering kali, itu berupa nasi dan sayuran yang tak sempat disentuh.
“Bukan karena nggak enak,” katanya, “tapi kadang udah masak di rumah, eh malah makan di luar. Pulang-pulang udah kenyang.”
Itu bukan cerita yang asing di kalangan mahasiswa urban. Di tengah jadwal yang padat, suasana hati yang berubah-ubah, dan godaan jajan yang tak pernah habis, makanan di rumah sering kali berakhir menjadi limbah.
Seolah-olah perut dan piring hidup di dua dimensi waktu yang tak selalu sinkron. Khilfatul sadar ke mana arah sisa itu pergi.
“Semuanya akan diangkut mobil sampah, tiga kali seminggu masuk ke perumahan,” ujarnya.
Tapi di antara jeda itu, ia masih punya strategi kecil yang agak menenangkan nuraninya.
Ia meletakkan piring plastik berisi sisa lauk di depan rumah, agar kucing-kucing tetangga bisa menikmati rezeki yang tak sempat disentuh manusia.
“Biasanya mereka senang sekali, apalagi kalau ada lauknya,” ujarnya.
Namun senyum itu bukan tanpa beban. Ia mengaku sering merasa bersalah.
“Saya tahu masih banyak orang di luar sana yang kesulitan cari makan.”
Kesadaran itu tidak membuatnya imun dari praktik food waste. Tapi justru di situlah wajah nyata permasalahan ini – kontradiksi antara pengetahuan dan tindakan, antara niat baik dan kebiasaan.
Ia selalu berusaha menghabiskan makanannya saat berada di kampus. Ia memilih tempat makan yang sudah jadi langganan, menyantap makanan yang memang ia suka, dan menyebutnya sebagai bentuk “apresiasi setelah hari yang berat.”
Namun sesekali, seperti mahasiswa pada umumnya, ia tergoda untuk membeli lebih dari yang bisa ia habiskan—terutama makanan manis yang menghibur saat suasana hati sedang keruh. Dari piscok hingga martabak manis, dari kue pasar hingga jajanan impulsif di pinggir jalan. Kadang habis, kadang tidak.
Meski belum pernah ikut komunitas penyelamatan makanan, Khilfatul terbuka untuk melakukannya suatu hari nanti.
Baginya, kampus memiliki peran yang cukup besar, meski sejauh ini baru sebatas menyediakan tempat makan yang variatif dan terjangkau.
Ia sendiri, sebagai penghuni kos tanpa kulkas, mengelola makanan dengan cara memasak dalam porsi kecil.
“Cukup untuk sekali makan saja,” katanya. “Biar nggak mubazir, dan saya juga kurang suka makanan yang sudah dingin.”
Ia pun mendukung penuh gagasan menyalurkan makanan sisa kepada orang yang membutuhkan. Bahkan ia merasa itu akan sangat disyukuri oleh mereka yang kesulitan mendapatkan makanan.
“Kalau ada aplikasi penyelamatan makanan, saya sangat tertarik ikut,” katanya mantap.
“Pasti akan sangat membantu dan menyenangkan.”
Sampah dari Dapur Sunyi
Di salah satu rumah warga di Makassar, Nurul Wafika menatap dapurnya dengan canggung. Di kulkasnya, beberapa wadah tertutup menyimpan sisa makanan dari hari sebelumnya. Sebagian telah ia panaskan pagi tadi, sebagian lagi masih menunggu giliran, atau malah diam-diam menuju nasib yang tak tertolong: dibuang.
“Sering, dua sampai tiga kali seminggu saya membuang makanan,” ujarnya pelan. “Biasanya karena sudah makan di luar, makanan yang di rumah jadi basi.”
Itulah ironi kehidupan urban yang kerap tak disadari – antara keinginan untuk hemat dan gaya hidup yang terus bergerak, antara niat baik dan kenyataan logistik. Ia tak membuang makanan karena tidak peduli, justru sebaliknya. Nurul merasa bersalah setiap kali melakukannya.
“Mungkin di luar sana masih banyak orang yang membutuhkan makanan ini,” katanya, “tapi saya cuma buang begitu saja.”
Sering kali, makanan yang dimasak di rumah kalah cepat dengan keinginan spontan untuk jajan di luar. Dan karena ia merasa “tidak tega” langsung membuang makanan yang tak enak, ia memilih membiarkannya di lemari makan sampai akhirnya basi.
Ironi rasa iba itu berakhir tetap di tempat sampah.
“Ada juga yang saya berikan ke tetangga atau teman kalau saya tahu mereka suka makanan itu,” ujarnya.
“Atau kalau bisa dipanaskan lagi, saya makan.”
Kesadaran itu menjadi cara ia berdamai dengan makanan sisa, meski terkadang kalah oleh waktu, selera, dan kebiasaan.
Ia setuju dengan gagasan menyalurkan makanan sisa kepada orang yang membutuhkan, selama makanan itu masih layak. Ia bahkan menilai restoran dan katering seharusnya diberi penyuluhan—bukan hanya soal etika, tapi soal manajemen pangan dan dampak sosialnya.
Jika ada aplikasi penyelamatan makanan?
“Saya tertarik,” jawabnya mantap. “Itu bisa berdampak positif bagi masyarakat dan lingkungan.”
Jejak Karbon dari Piring
Di balik dapur rumah tangga yang tampak remeh, ada ancaman besar yang nyaris tak terdengar – emisi gas metana dari sisa makanan.
Di kota-kota besar seperti Makassar, ancaman itu makin menguat seiring gaya hidup instan dan budaya konsumsi berlebihan. Seperti di banyak kota lainnya, masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan imbauan untuk tidak membuang makanan.
“Rata-rata timbulan sampah di Indonesia didominasi oleh sampah organik sebesar 57 persen,” kata Kepala Divisi Transisi Energi dan Pangan WALHI Sulawesi Selatan, Fadli.
“Limbah inilah yang secara langsung dapat melepaskan emisi gas metana, yang juga sangat mudah terbakar dan menjadi gas rumah kaca.”
Fadli berbicara dengan data dan urgensi. Baginya, sisa makanan bukan sekadar perkara etika atau ekonomi, tetapi juga persoalan ekologis yang genting. Gas metana dari tumpukan sampah organik di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) berkontribusi signifikan terhadap pemanasan global.
Sayangnya, sebagian besar masyarakat—terutama di kawasan urban—masih belum sadar betapa besar dampaknya.
Konsep zero waste menjadi solusi yang kini mulai didorong WALHI dan berbagai komunitas lingkungan.
Fadli menyebut bahwa salah satu cara paling nyata yang bisa dilakukan masyarakat urban adalah dengan mengelola limbah organik secara mandiri—memilahnya, mengolahnya, dan mencegahnya sampai menjadi sampah.
Tapi tanggung jawab tidak berhenti di dapur warga.
“Pemerintah juga punya peran penting dalam mewujudkan zero waste,” tegas Fadli.
Misalnya, kata dia, dengan menyediakan komposter di sekolah-sekolah yang menerapkan program makan siang gratis.
Gagasan ini sangat relevan dengan kebijakan nasional terbaru program makan siang gratis yang digadang-gadang akan dijalankan secara luas.
Tanpa sistem pengelolaan sampah organik yang baik, program ini justru bisa menjadi sumber baru masalah lingkungan.
Lebih lanjut, WALHI Sulsel juga mendesak agar Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) dimaksimalkan dan dibangun di seluruh kecamatan di Kota Makassar.
“Bukan hanya sebagai tempat buang sampah, tapi pusat pengolahan yang benar-benar produktif,” kata Fadli.
Yang menarik, ia juga mengusulkan keterlibatan pelaku usaha kecil: para produsen pupuk organik, pengusaha maggot, hingga komunitas urban farming. Mereka tidak hanya membantu menyelesaikan masalah, tapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi dari sampah.
“Ini bukan cuma soal lingkungan,” katanya. “Tapi juga soal keadilan sosial dan pemberdayaan ekonomi rakyat.”
Dalam konteks krisis iklim hari ini, pengelolaan sisa makanan tak bisa lagi dianggap isu pinggiran. Ia adalah titik temu antara dapur dan dunia, antara kebiasaan kecil dan dampak besar.
Di atas piring-piring yang tak habis, ada jejak karbon yang perlahan membentuk lapisan panas di atmosfer. Di antara nasi basi dan lauk terbuang, ada peluang untuk memperbaiki dunia—jika ada kemauan. (Andi/IN)