BANJAR, inspirasinusantara.id — Tekanan biaya hidup dan terbatasnya lapangan kerja formal mendorong sebagian warga Kota Banjar mencari sumber penghasilan alternatif. Dalam situasi tersebut, limbah kayu buka peluang ekonomi baru melalui pengolahan material sisa produksi menjadi kerajinan bernilai jual yang dikerjakan dari lingkungan rumah.
Limbah kayu berupa potongan jati dan suren yang sebelumnya terbuang kini dimanfaatkan untuk membuat miniatur lesung, artefak tradisional yang diadaptasi menjadi produk kerajinan modern. Proses produksi dilakukan secara manual dengan peralatan sederhana, sehingga dapat dijalankan tanpa ketergantungan pada modal besar maupun mesin industri.
Salah seorang perajin, Dadan (42), mengatakan aktivitas ini berawal dari upaya bertahan di tengah keterbatasan ekonomi. “Kayu sisa biasanya dibuang. Kami coba olah sendiri, ternyata bisa dijual dan ada yang tertarik membeli,” ujar Dadan, Senin (22/12/2025).
Menurut Dadan, harga kerajinan tersebut berkisar ratusan ribu rupiah per unit, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan pengerjaan. Produk ini diminati pembeli dari dalam dan luar daerah, terutama untuk kebutuhan cendera mata dan koleksi bernuansa tradisi.
Pemanfaatan limbah kayu ini menunjukkan bahwa ekonomi kreatif skala mikro masih memiliki ruang berkembang di tengah persaingan produk massal. Selain memberi nilai tambah ekonomi, praktik ini juga mengurangi sisa material produksi yang sebelumnya tidak dimanfaatkan.
Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kota Banjar, Sri Wahyuni, menilai inisiatif tersebut sejalan dengan upaya penguatan ekonomi lokal. Ia menjelaskan bahwa pemanfaatan bahan baku sekitar dapat menjadi strategi adaptasi warga. “Usaha berbasis limbah memiliki potensi untuk dikembangkan melalui pendampingan dan perluasan akses pasar,” katanya.
Sri Wahyuni menambahkan, pemerintah daerah sedang memetakan usaha kreatif berbasis limbah untuk diintegrasikan dengan program pemberdayaan UMKM. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan ekonomi warga sekaligus mendorong praktik produksi yang lebih berkelanjutan.
Pemanfaatan limbah kayu di Kota Banjar memperlihatkan bahwa inisiatif ekonomi berbasis komunitas dapat menjadi bagian dari arah pembangunan kota yang lebih inklusif. Solusi ekonomi tidak selalu bergantung pada proyek besar, tetapi juga lahir dari kreativitas warga dalam merespons kebutuhan sehari-hari.(rtn/IN)