Manusia Silver: Balutan Seni Semu Tanpa Kreativitas

Manusia Silver
MERESAHKAN. Tampilan beberapa manusia silver yang berkeliaran di Kota Makassar. (foto:ist)


Penulis: Syamsul Rijal (Mahasiswa S-3 Ilmu Linguistik FIB Universitas Hasanuddin)

Fenomena manusia silver yang menjamur di berbagai kota besar Indonesia, termasuk Makassar, menarik perhatian bukan hanya karena mereka mencolok di ruang publik, tetapi juga karena mereka menggugah pertanyaan mendalam tentang makna seni, kreativitas, dan kemiskinan urban. Tubuh dicat warna perak, berdiri diam di tengah perempatan jalan, dan tangan menengadah meminta uang. Pada pandangan pertama, mereka tampak seperti bagian dari seni pertunjukan jalanan. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, manusia silver di Indonesia, khususnya di Makassar, justru mencerminkan kegagalan budaya dalam mengolah simbol dan gagalnya imajinasi kolektif untuk merespons realitas secara kreatif.

Di berbagai kota di Barat, figur manusia patung atau “living statue” merupakan bagian dari street artyang terintegrasi dengan tradisi seni pertunjukan. Mereka bukan sekadar diam; mereka menyuguhkan narasi, berinteraksi dengan audiens, dan kadang membawa pesan sosial atau politik. Warna perak yang digunakan pun punya makna simbolis—tentang modernitas, keterasingan urban, atau bahkan masa depan yang mekanistik. Namun ketika fenomena ini ditiru di Indonesia, yang dipilih hanya lapisan paling dangkal: cat perak dan tubuh diam. Tidak ada narasi, tidak ada keterampilan pertunjukan, dan yang tersisa hanya tindakan meminta dalam balutan estetika semu.

Tak hanya itu, kritik juga muncul karena yang dipakai untuk menarik simpati adalah tubuh manusia itu sendiri. Cat perak menjadi semacam kostum palsu yang menyamarkan kenyataan bahwa ini bukan seni pertunjukan, tapi bentuk baru dari pengemis jalanan. Beberapa dari mereka bahkan anak-anak, yang seharusnya berada di bangku sekolah, bukan di bawah terik matahari dengan tubuh dilumuri bahan kimia.

Dalam teori budaya, fenomena ini dapat dibaca melalui konsep “mimicry” dari Homi Bhabha. Imitasi terhadap budaya dominan global sering kali menghasilkan bentuk-bentuk peniruan yang tidak utuh, bahkan mengandung ironi. Manusia silver di Makassar bukanlah hasil dari proses adaptasi kreatif budaya global, melainkan sekadar replika visual tanpa makna. Ini yang disebut sebagai “mimicry yang timpang”—meniru tampilan, tapi tak memahami isi. Dalam bahasa Jean Baudrillard, fenomena ini bisa disebut sebagai “simulacra”: sebuah representasi tanpa referensi terhadap realitas yang asli. Tubuh yang dicat perak bukan lagi simbol futurisme atau kritik sosial, tetapi hanyalah media untuk menarik simpati publik dan mendapatkan recehan.

Apa yang terjadi di balik tubuh perak itu adalah bentuk ekstrem dari apa yang disebut pseudo-kreativitas—tampak inovatif di permukaan, tetapi sebenarnya kosong dari gagasan. Mereka yang tampil sebagai manusia silver tidak menawarkan pengalaman seni, tidak juga menyampaikan kritik sosial. Yang ditawarkan hanyalah tubuh sebagai medium belas kasihan. Estetika tidak lagi menjadi bahasa ekspresi, melainkan sekadar kamuflase dari aktivitas mengemis.

Kondisi ini juga menunjukkan minimnya ruang bagi ekspresi budaya yang otentik di tengah kota-kota besar yang penuh tekanan ekonomi dan ketimpangan sosial. Ketika masyarakat bawah tidak mendapatkan akses pada panggung seni atau ekonomi kreatif yang inklusif, maka mereka menciptakan panggungnya sendiri di jalanan. Sayangnya, panggung ini bukan untuk mengekspresikan suara hati atau kritik, melainkan untuk bertahan hidup dengan segala cara, bahkan dengan meniru budaya lain secara setengah matang.

Alih-alih menunjukkan potensi seni jalanan, manusia silver justru menelanjangi kemiskinan kultural yang terjadi. Ini adalah krisis imajinasi. Jika kreativitas didefinisikan sebagai kemampuan untuk merespons kenyataan secara segar dan bermakna, maka performa manusia silver di Makassar dan kota lain adalah cermin dari hilangnya kemampuan itu. Simbol-simbol yang diambil dari budaya global tidak dimaknai ulang, tidak diterjemahkan ke dalam konteks lokal, dan akhirnya kehilangan relevansi.

Apa yang bisa dilakukan? Tentu saja penertiban bukan jawaban satu-satunya. Masalahnya bukan semata-mata tentang ketertiban kota, tapi tentang ruang ekspresi dan peluang ekonomi yang setara. Pemerintah daerah, komunitas seni, dan pegiat budaya seharusnya membuka jalur kreatif yang otentik—melalui pelatihan seni, pemberdayaan ekonomi kreatif, dan festival jalanan yang menampung ekspresi warga. Bukannya menutup ruang, tapi mengarahkan energi ekspresif ke arah yang bermakna.

Fenomena manusia silver seharusnya menjadi cermin bagi kita semua. Ia menegaskan bahwa di balik tubuh-tubuh yang diam dan berwarna logam itu, tersembunyi kegelisahan, keterbatasan, dan ketidakmampuan kita sebagai masyarakat untuk menciptakan ruang hidup yang manusiawi dan ekspresif. Sudah saatnya berhenti mengecat tubuh demi simpati, dan mulai mengecat imajinasi dengan kreativitas yang berakar dari pengalaman dan identitas kita sendiri. (*)

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top