BULUKUMBA,inspirasinusantara.id — Perubahan mulai terlihat dalam praktik ritual pembuatan Pinisi di sentra galangan kapal tradisional di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Sejumlah tahapan ritual yang dahulu dijalankan secara lengkap kini mulai disesuaikan dengan kebutuhan produksi dan perkembangan pasar.
Ritual dalam pembuatan pinisi sebelumnya menjadi bagian penting dalam setiap tahapan, mulai dari pemilihan kayu, pemotongan lunas, hingga prosesi peluncuran kapal ke laut. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, sebagian tahapan tersebut tidak lagi dilakukan secara menyeluruh.
Pengrajin pinisi di kawasan Tanah Beru, H. Abdullah Hasan, menyebut perubahan ini berkaitan dengan meningkatnya permintaan pasar, terutama untuk kebutuhan pariwisata dan pasar internasional.
Ia menjelaskan, pesanan kapal dengan konsep modern mendorong proses produksi menjadi lebih cepat dan efisien. Dalam kondisi tersebut, sejumlah ritual tetap dilakukan, namun tidak selalu lengkap seperti sebelumnya.
Perubahan juga terjadi pada tahapan penting seperti pemotongan lunas yang dahulu diiringi aturan adat yang ketat. Kini, proses tersebut dilakukan lebih fleksibel, meski nilai budaya tetap dijaga dalam praktiknya.
Pengrajin lainnya, Rusdi Mulyadi atau H. Ully, menegaskan bahwa keahlian pembuatan pinisi masih dipertahankan sebagai warisan turun-temurun. Ia menyebut teknik pembuatan kapal tetap mengandalkan metode tradisional tanpa gambar teknik, meski aspek nonteknis seperti ritual mulai mengalami perubahan.
Menurutnya, percepatan produksi dan tuntutan desain modern menjadi faktor utama yang memengaruhi penyesuaian tersebut.
Perubahan juga terlihat pada prosesi peluncuran kapal atau anyorong lopi, yang sebelumnya dilakukan dengan rangkaian ritual adat lengkap. Kini, dalam beberapa kasus, prosesi tersebut disederhanakan atau disesuaikan dengan kebutuhan pemilik kapal.
Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran antara pelestarian tradisi dan tuntutan ekonomi. Di satu sisi, pinisi tetap menjadi simbol budaya maritim yang kuat, namun di sisi lain, adaptasi terhadap pasar dinilai menjadi kebutuhan untuk menjaga keberlanjutan industri.
Dalam konteks ini, keseimbangan antara nilai tradisi dan kebutuhan modern menjadi tantangan utama agar warisan budaya seperti pinisi tetap lestari di tengah perubahan zaman.(jmi/IN)