Pesan Makanan Online Ubah Pola Makan dan Tingkatkan Risiko Kesehatan

INSPIRASI NUSANTARA—Penggunaan aplikasi pesan makanan online yang kian meluas di Indonesia berkorelasi dengan perubahan pola makan masyarakat dan meningkatnya risiko gangguan kesehatan. Sejumlah temuan riset menunjukkan bahwa kemudahan akses layanan digital tersebut berhubungan dengan kenaikan indeks massa tubuh (BMI), kelebihan berat badan, hingga obesitas pada pengguna aktif.

Kajian tersebut menyoroti bahwa aplikasi pesan antar makanan mempermudah konsumsi makanan tinggi kalori, lemak, gula, dan garam. Pola ini muncul seiring dominasi pilihan makanan siap saji yang sering ditampilkan dalam aplikasi, terutama melalui fitur promosi, diskon, dan rekomendasi menu populer.

Peneliti dalam kajian ini menjelaskan bahwa mekanisme promosi di aplikasi turut memengaruhi keputusan konsumen. Alih-alih mempertimbangkan kandungan gizi, pengguna cenderung memilih makanan berdasarkan harga murah dan popularitas. Dalam kajian tersebut disebutkan bahwa “kemudahan pemesanan dan promosi yang agresif mendorong konsumsi makanan kurang sehat secara berulang”.

Dari sisi dampak kesehatan, riset menemukan bahwa individu yang sering memesan makanan secara daring memiliki rata-rata BMI dan lingkar pinggang lebih besar dibandingkan mereka yang jarang menggunakan layanan serupa. Kondisi ini dinilai mempercepat transisi nutrisi masyarakat, yang dalam jangka panjang meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan metabolik.

Selain memengaruhi asupan makanan, layanan pesan makanan online juga berkontribusi terhadap menurunnya aktivitas fisik. Kebiasaan memasak, berbelanja bahan makanan, atau berjalan ke tempat makan semakin berkurang karena digantikan oleh sistem antar. Peneliti menilai situasi ini memperkuat pola hidup sedentari yang berdampak negatif bagi kesehatan.

Meski demikian, kajian tersebut mencatat bahwa layanan pesan makanan digital tidak sepenuhnya berdampak buruk. Dalam kondisi tertentu, aplikasi ini dapat meningkatkan akses dan keragaman pangan, termasuk bagi masyarakat di wilayah dengan pilihan makanan terbatas. Layanan ini juga berpotensi membantu kelompok dengan masalah kekurangan berat badan jika dimanfaatkan secara tepat.

Para peneliti menekankan perlunya kebijakan kesehatan publik yang adaptif terhadap perkembangan layanan pesan makanan digital. Mereka mendorong adanya transparansi informasi gizi, pembatasan promosi makanan tinggi gula dan lemak, serta peningkatan visibilitas pilihan makanan sehat dalam aplikasi guna menekan risiko kesehatan masyarakat.(eva/IN)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top