Pohon Natal Bambu Ubah Tradisi Perayaan

JAWA TIMUR, inspirasinusantara.id – Kehadiran pohon natal bambu setinggi enam meter di Jombang, Jawa Timur, menarik perhatian publik menjelang perayaan Natal. Inisiatif ini menandai pergeseran cara merayakan Natal, dari dekorasi berbasis konsumsi menuju pendekatan yang lebih sederhana dan ramah lingkungan. Pohon natal bambu tersebut dirancang menggunakan material bambu lokal tanpa ornamen sintetis berlebihan. Bentuk alami bambu dibiarkan menonjol sebagai elemen utama, menggantikan dekorasi plastik yang lazim digunakan dalam perayaan Natal di ruang publik.

Penggagas kegiatan, Ahmad Fauzi, mengatakan pemilihan bambu dilakukan sebagai respons atas meningkatnya kesadaran lingkungan. “Pohon natal bambu kami pilih karena mudah diperoleh, bisa digunakan kembali, dan tidak meninggalkan limbah jangka panjang seperti dekorasi plastik,” ujarnya.

Menurut Fauzi, konsep ini juga dimaksudkan untuk mengajak masyarakat memaknai ulang perayaan Natal. Ia menilai esensi perayaan tidak terletak pada kemewahan visual, melainkan pada nilai kebersamaan, kesederhanaan, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Selain membawa pesan ekologis, pembuatan pohon natal bambu melibatkan perajin dan warga setempat. Keterlibatan masyarakat lokal ini dinilai memberi dampak sosial dan ekonomi, sekaligus memperkuat rasa kebersamaan menjelang perayaan hari besar keagamaan.

Tokoh gereja setempat, Romo Yohanes Prasetyo, menilai penggunaan pohon natal bambu sejalan dengan nilai spiritual Natal. “Kesederhanaan ini mengingatkan umat bahwa Natal adalah tentang harapan dan kepedulian, bukan sekadar kemewahan dekorasi,” katanya. Fenomena pohon natal bambu di Jombang mencerminkan kecenderungan baru di berbagai daerah, di mana komunitas keagamaan mulai menjadikan perayaan sebagai ruang refleksi sosial. Isu keberlanjutan dan tanggung jawab lingkungan kini ikut dihadirkan melalui simbol-simbol perayaan.

Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap krisis iklim dan konsumsi berlebih, pohon natal bambu menjadi contoh bahwa tradisi dapat terus dijalankan dengan cara yang lebih kontekstual. Perayaan tetap berlangsung, namun dengan pendekatan yang lebih sadar dan relevan bagi masyarakat masa kini.(rtn/IN)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top