Pola Makan Anak Muda dan Kanker Usus

JAKARTA, inspirasinusantara.id—Peningkatan kasus kanker usus pada kelompok usia muda kembali menjadi perhatian tenaga kesehatan setelah sejumlah penelitian internasional mengaitkan tren tersebut dengan perubahan pola konsumsi generasi perkotaan. Data itu memunculkan kekhawatiran karena kelompok usia produktif semakin banyak tercatat sebagai pasien penyakit kronis yang sebelumnya lebih lazim terjadi pada usia lanjut.

Sejumlah kajian epidemiologis global menunjukkan insiden kanker usus atau kanker kolorektal pada orang dewasa di bawah usia 50 tahun meningkat dalam dua dekade terakhir. Beberapa riset juga mencatat bahwa individu dengan konsumsi tinggi makanan ultra-proses memiliki kecenderungan lebih besar mengalami adenoma, yakni pertumbuhan abnormal pada dinding usus yang berpotensi berkembang menjadi kanker.

Dokter spesialis penyakit dalam di Jakarta, dr. Andri Prasetyo, mengatakan temuan tersebut memperkuat kekhawatiran tenaga medis terhadap perubahan pola makan anak muda di lingkungan perkotaan. “Kami semakin sering menjumpai pasien usia produktif dengan gangguan saluran cerna yang serius. Pola makan yang didominasi produk olahan industri menjadi salah satu faktor yang perlu dikendalikan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa makanan ultra-proses umumnya mengandung gula, garam, dan lemak dalam kadar tinggi serta minim serat. Menurutnya, karakteristik tersebut dapat memengaruhi kesehatan pencernaan dalam jangka panjang. Secara tidak langsung, ia menilai kebiasaan itu berkaitan dengan ritme hidup perkotaan yang cepat sehingga banyak warga mengandalkan makanan siap saji.

Ahli gizi klinis Rina Kartikasari menyampaikan bahwa persoalan ini tidak dapat dilepaskan dari perubahan lanskap pangan di kota besar. “Akses terhadap makanan instan semakin luas, sementara konsumsi pangan segar sering terpinggirkan. Karena itu, pencegahan kanker usus perlu dimulai sejak usia produktif dengan memperbaiki pilihan makanan harian,” katanya. Ia menambahkan bahwa pergeseran pola konsumsi yang dilakukan secara konsisten dapat membantu menurunkan risiko penyakit jangka panjang.

Selain faktor makanan, para dokter mengingatkan bahwa kanker usus tidak dipicu oleh satu sebab tunggal. Aktivitas fisik yang rendah, kelebihan berat badan, kebiasaan merokok, serta riwayat keluarga turut berperan dalam meningkatkan risiko. Karena itu, tenaga medis juga mendorong pemeriksaan skrining lebih awal bagi individu dengan faktor risiko tertentu sebagai bagian dari upaya pencegahan.

Menurut dr. Andri, deteksi dini menjadi salah satu kunci dalam menekan angka kematian akibat kanker usus. “Banyak kasus tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Pemeriksaan berkala dapat membantu menemukan kelainan sebelum berkembang lebih lanjut,” ujarnya.

Meningkatnya kanker usus pada usia muda kini dipandang sebagai tantangan kesehatan masyarakat di wilayah perkotaan, terutama di tengah pola kerja sedentari dan lingkungan pangan yang dipenuhi produk olahan industri. Sejumlah pakar menilai penguatan edukasi gizi, promosi gaya hidup aktif, serta penyesuaian kebijakan pencegahan penyakit tidak menular perlu diperluas agar risiko kesehatan di masa depan dapat ditekan.(frh/IN)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top