Penulsi: Farisal
PERGANTIAN tahun selalu terasa seperti sebuah jeda. Kalender diganti, kembang api dinyalakan, dan orang-orang berharap hidup akan lebih baik setelah angka berubah. Namun dari 2025 ke 2026 ini ada banyak cerita menarik yang patut diketahui, salah satunya di banyak kebun kakao di Sulawesi Selatan, khususnya Luwu Raya pergantian tahun tidak ditandai letupan cahaya, melainkan bunyi gergaji mesin yang memecah sunyi.
Di sanalah, pelan-pelan, raja tumbang dari penguasa baru “Sawit”.
Indonesia pernah menjadi “Raja Kakao” nomor tiga dunia. Bukan cerita karangan. Bukan pula nostalgia kosong. Pada 2009–2010, produksi kakao nasional mencapai 800 ribu ton, menempatkan Indonesia di posisi ketiga dunia, tepat di bawah Pantai Gading dan Ghana. Dunia menoleh. Nama Indonesia disegani.

Dari kakao, banyak hidup terangkat. Petani naik haji. Mobil dibeli. Anak-anak petani disekolahkan hingga sarjana. Semua itu nyata, bukan mitos kampung.
Namun waktu bergerak cepat. Kini, di ujung 2025 menuju 2026, kisah itu terasa jauh. Indonesia justru mengimpor biji kakao dari Amerika Latin dan Afrika untuk menghidupi pabrik-pabrik di dalam negeri. Hilirisasi berjalan, pabrik tumbuh, tetapi bahan bakunya semakin sulit ditemukan di kebun sendiri.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Di Palopo, Mustaqim, petani kakao yang puluhan tahun hidup bersama pohon cokelat menyebut dua musuh utama yang menggerogoti harapan petani: Penggerek Buah Kakao (PBK) dan Vascular Streak Dieback (VSD). Dua nama yang terdengar teknis, tetapi dampaknya sangat personal.
“Bayangkan,” katanya dengan suara yang menurun, “kita sudah rawat buah berbulan-bulan. Tapi begitu dibuka, bijinya saling lengket dan hitam.” Kalimat itu berhenti di sana. Mustaqim menunduk. Tidak semua kekecewaan perlu dijelaskan panjang.
Masalah kakao tidak hanya soal hama. Banyak pohon kakao kini berusia 20 sampai 30 tahun. Produksinya anjlok, batangnya rapuh. Jalan keluar satu-satunya adalah replanting atau tanam ulang. Namun, itu berarti tiga sampai empat tahun tanpa penghasilan. Bagi petani kecil, masa tunggu selama itu bukan sekadar soal sabar, melainkan soal bertahan hidup.
Di titik inilah logika perut mulai mengambil alih.
Ketika kakao menuntut perawatan ekstra, hadir pilihan yang terasa lebih masuk akal: jagung dan sawit. Jagung panen cepat, tiga sampai empat bulan, perawatannya lebih mudah, dan uang cepat berputar. Bagi petani yang terdesak kebutuhan harian dan pola konsumsi yang terus naik, mempertahankan kakao sering kali terasa seperti romantisme yang menyakitkan.
Sementara sawit dinilai tanaman jangka panjang yang menjadi pengharapan baru para petani. Menunggu sawit dua tahun, disela itu jagung bisa terus di tanam.
“Kami cinta kakao,” kata Iwan, petani kakao di Luwu Utara. “Tapi cinta tidak bisa bayar uang sekolah anak lagi.”
Kalimat itu menjadi penanda, suara gergaji mesin terus terdengar. Puluhan ribu hektar kakao di Luwu Raya telah ditebang. Sang raja disingkirkan. Lahannya diganti oleh tanaman yang oleh petani disebut sebagai “emas cair”: sawit.
“Banyak yang menebang, beralih ke sawit untuk taman jangka panjang,” kata Mustaqim.
Di sinilah paradoks besar muncul. Di saat kebun kakao menyusut, pemerintah justru gencar mendorong hilirisasi kakao. Pabrik pengolahan bertambah, industri tumbuh, tetapi pertanyaan dasarnya menggantung: dari mana bijinya akan datang?
Pergantian tahun ini seolah memperlihatkan sebuah ironi yang telanjang. Negara berbicara tentang masa depan industri, sementara petani berjuang untuk bertahan hari ini.
Jika dilihat dari sisi ekologi, kakao sejatinya memiliki keunggulan yang jarang dibicarakan. Kakao tumbuh baik dalam sistem agroforestri atau hidup berdampingan dengan pohon pelindung lain. Tajuknya tidak rakus cahaya, akarnya membantu menjaga struktur tanah, dan kebunnya masih memberi ruang bagi burung, serangga, serta keanekaragaman hayati lain. Kakao menjaga air tetap tinggal di tanah dan menahan erosi.
Sawit bekerja dengan cara berbeda. Ia tumbuh dalam hamparan luas dan seragam. Monokultur. Dalam jangka panjang, sistem ini cenderung mengurangi keanekaragaman hayati, menekan kehidupan mikroorganisme tanah, dan mengubah keseimbangan air. Secara ekologis, kakao lebih ramah. Sawit lebih agresif.
Namun ekologi sering kalah oleh ekonomi.
Petani tidak hidup dari grafik lingkungan. Mereka hidup dari panen. Dari uang sekolah anak. Dari kebutuhan dapur. Sawit menawarkan “kepastian jangka panjang, sesuatu yang semakin sulit diberikan kakao ketika hama, usia tanaman, dan harga saling menekan.
Apakah kita harus menyalahkan petani?
Ataukah ini tentang negara dan pemerintah daerah yang terlalu lama membiarkan raja berjalan pincang tanpa penopang? Tentang kebijakan yang datang setelah pohon ditebang? Tentang perlindungan yang lebih sering tertulis di dokumen daripada hadir di kebun?
Di ujung 2025, saat kita menoleh ke 2026 dengan harapan baru, kisah kakao mengajarkan satu hal penting: kejayaan tidak runtuh dalam semalam. Ia runtuh pelan-pelan oleh hama yang dibiarkan, pohon tua yang tak diremajakan, harga yang tak adil, dan pilihan-pilihan sulit yang akhirnya harus diambil petani.
Raja itu tidak dibunuh sekali tebas. Ia ditebang sedikit demi sedikit. (*)