JAKARTA, inspirasinusantara.id—Tempe dinilai memiliki manfaat kesehatan yang signifikan dalam menunjang kesehatan tulang manusia. Hal ini menjadi salah satu kesimpulan kajian yang ditulis oleh Fatimah et al., dalam artikel berjudul “Manfaat tempe juga bisa menyehatkan tulang: Mengapa pengakuan dari UNESCO saja tidak cukup?” yang dipublikasikan baru-baru ini.
Menurut kajian tersebut, tempe merupakan pangan fermentasi berbasis kedelai yang kaya akan nutrisi esensial, termasuk protein nabati, mineral, dan senyawa bioaktif yang berperan dalam pembentukan dan pemeliharaan jaringan tulang. Kandungan nutrisi ini menunjukkan bahwa tempe memiliki fungsi fisiologis lebih jauh ketimbang hanya menjadi makanan tradisional.
Peneliti menjelaskan bahwa proses fermentasi pada tempe meningkatkan ketersediaan nutrisi bagi tubuh. “Fermentasi membuat mineral dan protein dalam tempe lebih mudah diserap tubuh, sehingga berkontribusi terhadap kesehatan tulang,” tulis Fatimah. Menurut kajian, mineral seperti kalsium, fosfor, dan magnesium berperan dalam menjaga kepadatan tulang dan mengurangi risiko keropos tulang seiring bertambahnya usia.
Selain mineral, tempe juga mengandung isoflavon, senyawa bioaktif hasil fermentasi kedelai yang dikaitkan dengan regulasi aktivitas sel osteoblas, yaitu sel pembentuk tulang. Fatimah menilai kombinasi nutrisi ini berpotensi membantu menurunkan risiko osteoporosis, terutama pada kelompok usia lanjut.
Kajian ini muncul di tengah upaya pengakuan tempe sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. Namun, penulis menilai bahwa pengakuan budaya semata tidak cukup untuk memperkuat posisi tempe sebagai pangan fungsional yang bernilai kesehatan. Tanpa penguatan berbasis riset dan edukasi publik, manfaat kesehatan tempe berisiko terbatas hanya sebagai simbol budaya, bukan sebagai sumber gizi yang optimal. “Pengakuan internasional perlu diiringi dengan pemahaman ilmiah agar tempe benar-benar dimanfaatkan untuk kesehatan,” tulis Fatimah.
Di tingkat global, tempe semakin mendapat perhatian sebagai salah satu makanan fermentasi dengan nilai gizi tinggi, terutama di kalangan komunitas vegan dan vegetarian yang mencari alternatif protein nabati. Namun, kajian tersebut menekankan bahwa pengembangan tempe seharusnya didasarkan pada bukti ilmiah yang kuat, termasuk perannya dalam mendukung kesehatan tulang, bukan semata pada status budaya.
Dalam konteks kesehatan masyarakat, tempe dinilai memiliki potensi sebagai sumber nutrisi terjangkau yang relevan untuk menjawab tantangan meningkatnya penyakit degeneratif terkait tulang pada populasi yang menua. Kajian Fatimah et al. menegaskan bahwa nilai strategis tempe terletak pada manfaat kesehatannya yang terukur, sekaligus perannya sebagai pangan lokal berkelanjutan.(eva/IN)