Tradisi Mappalette Bola Perkuat Solidaritas Warga Bugis

MAKASSAR, inspirasinusantara.id—Masyarakat suku Bugis di Sulawesi Selatan terus melestarikan Mappalette Bola, sebuah tradisi memindahkan rumah panggung secara gotong royong. Praktik kearifan lokal ini dinilai menjadi instrumen efektif dalam menjaga ikatan sosial warga di tengah arus modernisasi.

Kegiatan Mappalette Bola dilakukan saat seorang pemilik rumah ingin berpindah lokasi tempat tinggal tanpa merusak atau membongkar bangunan. Prosesi ini melibatkan puluhan hingga ratusan orang yang secara sukarela mengangkat kerangka rumah kayu menggunakan balok-balok kayu sebagai tumpuan beban.

Budayawan Sulawesi Selatan, Dr. Andi Syamsuddin, menjelaskan bahwa Mappalette Bola merupakan cerminan dari nilai sipakatau atau saling memanusiakan. Ia menegaskan bahwa partisipasi warga dalam kegiatan ini murni didasari semangat kebersamaan tanpa mengharapkan upah materi.

“Tradisi ini menunjukkan bahwa rumah bukan sekadar bangunan, tetapi simbol kebersamaan. Semua warga terlibat tanpa imbalan,” ungkap Andi.

Andi menambahkan bahwa meskipun tantangan individualisme di perkotaan semakin nyata, tradisi ini tetap bertahan kuat di wilayah perdesaan. Menurutnya, eksistensi Mappalette Bola berperan penting sebagai penyeimbang tatanan sosial agar masyarakat tidak kehilangan jati diri di era modern.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan, Nurhayati, menyebut tradisi ini sebagai identitas budaya yang krusial. Ia memandang Mappalette Bola sebagai praktik sosial yang menanamkan rasa tanggung jawab kolektif.

“Ini bukan sekadar tradisi, tetapi praktik sosial yang mengajarkan solidaritas, kerja sama, dan rasa saling memiliki,” ungkap Nurhayati.

Sebagai langkah keberlanjutan, pemerintah daerah terus mendorong dokumentasi dan edukasi mengenai kearifan lokal ini kepada generasi muda. Program tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan sekolah dan komunitas seni guna memastikan nilai-nilai leluhur tetap dipahami oleh generasi mendatang.

Melalui sinergi antara pemerintah, budayawan, dan masyarakat, Mappalette Bola diharapkan tidak hanya menjadi seremonial budaya. Tradisi ini diproyeksikan tetap menjadi fondasi kuat dalam menjaga keharmonisan warga Sulawesi Selatan dalam menghadapi dinamika pembangunan wilayah.(jmi/IN)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top