Sisa Asa di Tepi Bau Busuk TPA Antang Makassar

Ilustrasi TPA
SAMPAH. Ilustrasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang, Makassar. (Dok. Ist)

IN, MAKASSAR — Di balik bau busuk dan asap tipis yang menyelimuti Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang, Makassar, Rosma berdiri teguh.

Perempuan kelahiran 24 November 1979 ini tak hanya hidup dari sampah—ia merajut harapan darinya.

Setiap pagi, sebelum mentari meninggi, Rosma memasak untuk keluarganya. Setelah itu, dengan langkah hati-hati, ia berjalan menyusuri tanah becek dan genangan lumpur yang bercampur plastik menuju gunungan sampah.

Di sanalah ia memulung: mengais plastik, kardus, kaleng, apa saja yang bisa ditukar rupiah.

Sudah 14 tahun Rosma hidup di pinggir TPA. Rumah sederhananya, berdinding tripleks dan beratap seng, pernah dua kali dilalap api. Pertama pada tahun 2016.

Baca juga: Danny Pomanto Komitmen Jadikan TPA Manggala RTH Terbaik dengan Hadirkan PSEL

Lalu yang terbaru, 20 Agustus 2024. Ada sekitar 20 rumah pemulung yang terbakar saat itu. Namun Rosma tak pernah benar-benar pergi.

“Pindah ki ke bawah, tapi masih di sini ji,” ujarnya lirih.

Suaminya sudah tak lagi bekerja, setelah dipecat dari rumah sakit tempatnya menjadi leveransir. Sejak itu, beban rumah tangga berpindah ke pundak Rosma.

Ia tak mengeluh, hanya pasrah pada nasib yang ditentukan oleh laju truk-truk sampah.

“Kalau ada mobil masuk, pi ki memulung. Kalau tidak, ya tunggu ki.”

Rosma punya lima anak. Tiga sudah menikah, memberinya dua cucu. Tapi pendidikan anak-anaknya terhenti di bangku sekolah dasar.

“Bukan tidak mau lanjut, tapi keadaan tidak kasih jalan,” katanya.

Data Kementerian Pendidikan menunjukkan bahwa puluhan ribu anak di Sulawesi Selatan mengalami nasib serupa. Putus sekolah, atau bahkan tak pernah mencicipi bangku sekolah sama sekali.

Beberapa anak Rosma ikut bekerja: ada yang mengemudi truk sampah milik pemerintah. Sebagian lainnya menikah dini.

Musim hujan jadi cobaan tambahan. Lumpur bisa setinggi lutut, membuat aktivitas terganggu.

“Parah sekali, kalau hujan, semua banjir lumpur.”

Masalah kesehatan juga menghantui. Anaknya, Satrio, sejak bayi mengidap penyakit paru-paru bocor. Hal itu ditengarai lantaran menghirup udara yang berkontaminasi dengan sampah.

Baca juga: Pandawara Group Tiba Di Makassar, Netizen Beri Saran:Sekalian TPA Antang

Dulu, mereka bisa berobat berkat BPJS. Tapi sejak rumahnya terbakar dan kartu BPJS hilang, upaya mengurus ulang tak pernah membuahkan hasil.

“Saya sudah lapor ke RT/RW, tapi tidak pernah keluar lagi sampai sekarang.”

Rosma hidup dengan bantuan seadanya, sesekali dari Program Keluarga Harapan (PKH). Tapi ia tahu, bantuan bukan solusi jangka panjang. Yang ia butuhkan adalah perhatian.

“Saya mau mi ke wali kota baru. Lihat ki rakyat kecil, terutama pemulung. Kami juga manusia,” katanya, matanya menatap kosong ke arah tumpukan sampah yang tak kunjung habis.

Di antara gunungan limbah dan bau menyengat itu, Rosma bertahan. Bukan karena tak punya pilihan, tapi karena di sanalah harapannya tertanam—untuk anak-anaknya, cucunya, dan masa depan yang mungkin masih bisa lebih baik.

Wahyu di Antara Gunungan Sampah

Langit pagi belum sepenuhnya terang ketika Wahyu, 26 tahun, duduk di balik kemudi truk sampah di kawasan Rajawali-Cendrawasih. Wajahnya lelah, tetapi matanya tetap awas.

“Saya mulai dari jam enam pagi, pulangnya bisa jam sepuluh malam,” katanya.

Di tubuh mudanya yang terbalut seragam pudar, menempel sisa-sisa bau kota yang tak pernah benar-benar hilang.

Sejak 2022, Wahyu resmi menjadi sopir pengangkut sampah milik pemerintah kota. Tapi cerita hidupnya tak dimulai dari kabin truk. Ia memulai dari titik paling bawah: sebagai pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“Saya dulu tinggal di sekitar TPA, ikut-ikut memulung sejak kecil. Lalu jadi kernet tahun 2016, dan baru dua tahun terakhir dipercaya jadi sopir,” ujarnya lirih.

Tamat SD dan besar di lingkungan persampahan, Wahyu tak punya banyak pilihan. Di usianya yang masih belasan tahun, ia sudah paham arti uang dan lapar. Sekolah ditinggalkan demi membantu keluarga.

“Kalau orang lain pikir sekolah itu kewajiban, bagi kami dulu sekolah itu kemewahan,” tuturnya.

Pekerjaannya sekarang tak kalah berat. Setiap hari ia menunggu motor viar roda tiga yang menyisir rumah ke rumah, mengumpulkan sampah. Wahyu hanya menunggu, lalu mengangkut tumpukan itu ke TPA.

Di musim hujan, medan berubah jadi neraka. Ban truk bisa bocor, antrian bisa mengular hingga 12 jam.

“Pernah jam 10 malam masuk TPA, baru bisa keluar jam 10 pagi besoknya. Tidak bisa ditinggal mobil, antrean kendaraan terus bergerak.”

Dalam sepinya waktu tunggu, kadang rasa cemburu datang. Ia melihat teman sebayanya berseliweran dengan pakaian bersih dan hidup yang tampak lebih mapan.

“Sering juga saya iri. Tapi saya sadar, sesusah-susahnya saya, pasti ada yang lebih susah,” ujarnya. Ia tidak mau larut. Hidup, baginya, adalah pilihan untuk terus melangkah.

Di balik tumpukan sampah yang ia angkut setiap hari, Wahyu menyimpan satu harapan sederhana: bahagia bersama istri dan anak.

“Anakku harus sekolah tinggi. Itu prinsipku karena saya sudah tahu rasanya tidak sekolah,” katanya mantap.

Soal penyesalan, ia tak menyangkal. Tapi juga tak mau mengungkit.

“Hidup itu ke depan, bukan ke belakang. Saya tidak bisa ulang masa lalu. Tapi saya bisa pastikan anak saya tidak ulangi jalan saya.”

Di antara denting truk tua dan aroma menyengat dari sisa kehidupan kota, Wahyu terus menyetir. Membawa sampah, sekaligus membawa harapan kecil yang tak pernah ia buang. (mg1/IN)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top