Inspirasinusantara.id – Dulu dari dapur, kini mendobrak dunia digital perempuan Indonesia semakin menunjukkan bahwa keterampilan domestik bukan penghalang untuk bersinar di era transformasi digital. Dengan sentuhan teknologi, potensi yang dulu terkungkung kini menjelma menjadi kekuatan yang membawa perempuan naik kelas dari pengusaha rumahan hingga pemimpin komunitas daring.
Perkembangan teknologi digital bukan hanya mengubah pola kerja dan cara berbisnis, tetapi juga membuka jalan lebih luas bagi pemberdayaan perempuan. Hal ini disampaikan Deputi Bidang Ekonomi dan Transformasi Digital Kementerian PPN/Bappenas, Vivi Yulaswati, dalam ajang Top Women Fest CNBC Indonesia 2025, yang digelar beberapa hari lalu.
Vivi menegaskan bahwa transformasi digital yang tengah berlangsung di berbagai sektor telah menjadi pintu masuk bagi perempuan untuk menunjukkan kapabilitas mereka di dunia kerja. Menurutnya, teknologi memberi akses baru bagi perempuan untuk mengembangkan keterampilan yang selama ini dianggap terbatas pada ranah domestik, seperti menjahit, menggambar, hingga mengelola pekerjaan secara multitugas.
“Mulai dari skill menggambar, menjahit, hingga melakukan peran multitasking, semua bisa didukung oleh teknologi. Yang paling penting adalah memperkuat rasa percaya diri, menunjukkan bukti kemampuan, dan membuka ruang untuk saling berbagi pengalaman,” ujarnya dikutip dari CNBC.
Perempuan dan Tuntutan Multitasking
Dalam kesempatan itu, Vivi menggarisbawahi bahwa perempuan kerap kali dihadapkan pada tuntutan peran ganda, baik di ranah domestik sebagai ibu dan istri, maupun di ruang publik sebagai profesional. Kondisi ini menurutnya harus dilihat bukan sebagai beban, melainkan sebagai kekuatan perempuan untuk terus berkembang.
“Perempuan itu selalu dituntut untuk multitasking. Tidak hanya dalam kehidupan pribadi, tapi juga dalam peran keluarga. Di luar rumah, perempuan juga dihadapkan pada tuntutan profesional. Ini adalah sesuatu yang harus kita buktikan bisa dijalani dengan baik,” kata Vivi.
Multitasking bukan semata-mata kemampuan menjalankan banyak pekerjaan sekaligus, tapi juga kecakapan dalam mengelola waktu, emosi, dan prioritas. Bagi Vivi, perempuan yang mampu menyeimbangkan seluruh peran tersebut menunjukkan kualitas luar biasa dan layak mendapat ruang lebih besar di panggung profesional.
Peran Teknologi dalam Pemberdayaan
Transformasi digital, menyediakan platform inklusif untuk perempuan agar bisa belajar, berkarya, dan terhubung tanpa batas ruang dan waktu. Melalui berbagai platform digital, perempuan bisa mengikuti pelatihan daring, menjual produk buatan tangan, hingga memimpin komunitas secara online.
“Kita bisa mulai dari hal kecil, dari hal yang kita sukai. Teknologi membuat semua itu mungkin. Yang perlu ditanamkan adalah keyakinan bahwa perempuan bisa naik kelas, dan itu bisa dibuktikan dengan kemampuan dan hasil kerja nyata,” jelas Vivi.
Baca juga : 28 Mei Memperingati Hari Apa? Berikut Daftarnya!
Ia menekankan pentingnya literasi digital bagi perempuan sebagai bekal dalam menavigasi peluang-peluang baru. Pemberdayaan digital bukan hanya soal akses perangkat atau internet, tetapi juga kemampuan memanfaatkan informasi, mengambil keputusan secara bijak, dan mengelola risiko.
Karier dan Keseimbangan Peran
Mengenai perempuan yang ingin berkarier, Vivi menyatakan dukungannya sepenuhnya. Namun ia mengingatkan bahwa keberhasilan perempuan di dunia kerja tetap harus dibarengi dengan kemampuan menjaga keseimbangan antara tanggung jawab di rumah dan komitmen profesional.
Baca juga : Kearifan Lokal yang Tak Bisa Ditiru Teknologi: Royong, Suara Sakral Perempuan Sulsel.
“Proses pengambilan keputusan tentu ada dalam diri masing-masing perempuan. Kita harus bisa menilai mana yang terbaik, menghitung risikonya, dan terus mengasah diri. Ketika bisa menjaga keseimbangan itu, maka perempuan tidak hanya berdaya, tapi juga bisa jadi agen perubahan di lingkungannya,” tandas Vivi.
Dengan semangat tersebut, Vivi mengajak para perempuan Indonesia untuk tidak ragu melangkah maju. Ia percaya, masa depan transformasi digital di Indonesia akan jauh lebih kuat jika perempuan diberi tempat untuk berkontribusi aktif.
Menuju Kelas Profesional
Perempuan yang mampu bertahan dan bersinar dalam berbagai peran membuktikan bahwa mereka siap naik kelas. Baik sebagai pengusaha, kreator digital, pemimpin komunitas, atau profesional di sektor formal, kontribusi perempuan sangat dibutuhkan dalam pembangunan nasional.
Naik kelas itu bukan sekadar naik jabatan, tapi juga naik dalam kualitas hidup, kepercayaan diri, dan dampak positif yang diberikan ke lingkungan. Perempuan Indonesia punya potensi luar biasa untuk itu.
Teknologi bukan hanya alat, tetapi juga jembatan untuk menciptakan masa depan yang lebih setara. (*/IN)