Inspirasinusantara.id — Di Sulawesi Selatan, budaya ngopi jadi teman setia di setiap pagi, dari beranda rumah sampai warung pinggir jalan. Tapi tak jarang, baru beberapa teguk, perut sudah kasih sinyal untuk buru-buru ke kamar mandi.
Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, pagi hari belum lengkap tanpa secangkir kopi hangat. Di sudut warung kopi hingga beranda rumah, aroma kopi seolah menjadi alarm alami penanda hari dimulai—sebuah kebiasaan yang telah tumbuh menjadi budaya ngopi khas Sulsel.
Bukan sekadar minuman, kopi telah melekat sebagai bagian dari budaya ngopi yang menyatukan obrolan pagi dan semangat menjalani aktivitas. Tradisi ini tak hanya membangunkan tubuh, tetapi juga membangun koneksi sosial antarwarga sejak matahari terbit.
Namun, di balik kenikmatannya, ada satu efek yang sering terjadi setelah menyeruput kopi: dorongan kuat untuk segera ke toilet. Fenomena ini juga menjadi cerita sehari-hari dalam budaya ngopi, yang kerap dibicarakan dengan santai di sela-sela canda pagi.
Dalam sebuah riset yang dilansir CNN, sekitar 30 persen dari 92 responden mengaku merasa ingin buang air besar dalam waktu 30 menit setelah minum kopi.
Apa penyebabnya? Ternyata, ada penjelasan ilmiah yang cukup menarik.
Kopi dan ‘Gerakan Alamiah’ Usus
Kopi diketahui dapat menstimulasi gerakan otot pada usus besar (kolon). Saat otot-otot ini berkontraksi, feses terdorong ke rektum, memberikan sinyal ke otak bahwa tubuh harus mengeluarkannya. Hal ini diungkapkan oleh Adil Maqbool, peneliti dari Toho University, Jepang.
Baca juga : Ngopi juga Meninggalkan Jejak Karbon di Makassar
Yang lebih menarik, efek ini tidak hanya muncul dari kopi berkafein. Penelitian dalam European Journal of Gastroenterology and Hepatology menunjukkan bahwa kopi tanpa kafein (decaf) juga mampu merangsang usus besar, meskipun intensitasnya lebih ringan, sekitar 23 persen lebih rendah.
Kopi Tingkatkan Produksi Asam Lambung
Selain memengaruhi usus besar, kopi juga meningkatkan produksi asam di lambung, mempercepat proses pencernaan. Dokter Onyx Adegbola, pendiri klinik khusus gangguan pencernaan, menjelaskan bahwa kopi bisa berfungsi seperti pencahar alami karena memicu produksi asam lambung.
Baca juga : Budaya Nongkrong Asyik Tanpa Merusak Bumi, Ini Caranya
Namun, produksi asam ini bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, memperlancar pencernaan; di sisi lain, dapat menyebabkan rasa mulas atau bahkan refluks bagi mereka yang sensitif.
Penelitian dari Molecular Nutrition Food Research menemukan bahwa kopi dark roast yang memiliki kandungan asam lebih rendah menghasilkan produksi asam lambung yang lebih sedikit dibandingkan kopi blend biasa.
Solusi bagi Perut Sensitif
Jika Anda termasuk yang langsung “lari ke toilet” setelah ngopi, pertimbangkan memilih jenis kopi rendah asam. Dalam budaya ngopi, mengenali jenis kopi yang cocok dengan kondisi tubuh menjadi bagian penting agar kenikmatan tidak berubah menjadi ketidaknyamanan.
Beberapa alternatif seperti dark roast, espresso, cold brew, hingga kopi berbasis jamur (mushroom coffee) dapat mengurangi rasa mulas pada perut. Namun, satu hal yang perlu diingat: reaksi tubuh terhadap kopi berbeda-beda.
Dalam konteks budaya ngopi, tak ada satu resep yang cocok untuk semua orang. Ada yang tahan terhadap kafein, ada pula yang sangat sensitif.
Maka, memahami tubuh sendiri adalah kunci agar budaya ngopi tetap menjadi momen nikmat, bukan mimpi buruk di pagi hari. (*/IN)