INSPIRASINUSANTARA — Peringatan 8 April diramaikan dengan berbagai momentum global dan nasional, mulai dari Hari Anak Balita Nasional, Hari Yoga Anak Internasional, Hari Kesadaran Feng Shui Internasional, hingga Hari Empanada dan Hari Romani Internasional.
Beragam peringatan tersebut mengangkat isu penting, seperti kesehatan anak, keseimbangan hidup, hingga keberagaman budaya.
Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, Yanti Sukmayati, mengatakan bahwa Hari Anak Balita Nasional menyoroti pentingnya masa golden age dalam tumbuh kembang anak.
“Masa balita merupakan periode krusial yang menentukan kualitas kesehatan dan perkembangan anak di masa depan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemenuhan gizi, akses layanan kesehatan, serta stimulasi perkembangan menjadi faktor utama dalam mendukung tumbuh kembang anak. Namun, tantangan seperti stunting dan keterbatasan akses layanan kesehatan masih ditemukan di sejumlah wilayah.
Sementara itu, praktisi yoga anak, Diah Permatasari, menyebut Hari Yoga Anak Internasional mendorong penerapan pola hidup sehat sejak dini.
“Yoga membantu anak meningkatkan fokus, mengelola emosi, dan menjaga kesehatan mental,” katanya.
Meski demikian, ia menilai praktik yoga untuk anak masih belum merata dan cenderung berkembang di lingkungan tertentu.
Di sisi lain, pengamat tata ruang, Nirwono Joga, menjelaskan bahwa Hari Kesadaran Feng Shui Internasional berkaitan dengan keseimbangan antara manusia dan lingkungan.
Menurutnya, konsep feng shui sejatinya menekankan harmoni dalam penataan ruang, namun dalam praktik modern sering kali hanya dipahami sebatas aspek estetika.
“Pemahaman ini perlu diperluas agar dapat berkontribusi pada kualitas lingkungan hidup, khususnya di kawasan perkotaan,” jelasnya.
Adapun peneliti sosial dan budaya, Siti Zuhro, menilai peringatan Hari Empanada dan Hari Romani Internasional mencerminkan dinamika budaya global.
Ia menyebut empanada sebagai simbol penyebaran budaya kuliner lintas negara, sementara komunitas Romani masih menghadapi tantangan dalam memperoleh pengakuan dan kesetaraan.
“Peringatan budaya tidak hanya sebagai perayaan, tetapi juga upaya meningkatkan kesadaran sosial terhadap isu yang masih berlangsung,” ujarnya.
Secara keseluruhan, rangkaian peringatan 8 April menunjukkan bahwa isu kesehatan anak, keseimbangan hidup, dan keberagaman budaya tetap relevan. Namun, dampaknya dinilai belum optimal dan masih memerlukan langkah konkret agar tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. (jmi/IN)