Berbicara Itu Hal Biasa atau Suatu Berkah?

Orang yang berbicara
BERBICARA. Ilustrasi orang yang gugup berbicara di depan publik. (Foto: Meta AI)

Judul Buku: I Can’t Talk so Smoothly (Saya Tidak Bisa Berbicara dengan Lancar)

Pengarang: Naoya Shiino

ISBN: 978-623-030-601-3

Halaman: 256 hlm

Harga: Rp.85.000

Tahun Terbit: 2022

Inspirasinusantara.id — Bagaimana rasanya dapat berbicara dengan normal? Berbicara mungkin hal normal dan biasa bagi orang lain. Orang yang bisa berbicara dan tidak bisa berbicara tentu berbeda. Tapi, bagaimana dengan orang yang sama-sama bisa berbicara tapi tidak bisa menyampaikan apa yang ingin dikatakan?

Seseorang dengan kemampuan berbicara lancar saat berpidato atau presentasi di depan banyak orang tentu sangat memukau. Adapun orang yang bisa berbicara tapi suara menjadi pelan atau sering tersedat saat ditonton banyak orang. Sekarang, orang yang bisa berbicara bisa dikelompokkan menjadi beberapa bagian.

Baca juga: Pelajaran Iklim dari Anak-anak yang Memilah Sampah di Makassar

Terdapat orang yang dengan mudah menyampaikan opininya, ada juga orang yang terkadang kesusahan menyampaikan sesuatu seperti, belibet atau terlalu cepat dalam berbicara.

Apa anda tahu istilah gagap?

Menurut KBBI gagap merupakan gangguan bicara (kesalahan dalam ucapan dengan mengulang-ngulang bunyi, suku kata, atau kata). Seseorang yang menderita kondisi gagap termasuk orang yang bisa berbicara atau tidak? Orang gagap bukan orang yang tidak bisa berbicara, mereka bisa mengeluarkan kata dan bisa ikut dalam suatu percakapan.

Baca juga: Asap Warung, Jejak Karbon Kota Daeng

Tapi, respons beberapa orang mengatakan bahwa orang gagap itu tidak bisa berbicara. Di Jepang orang gagap tidak dianggap sebagai penyandang disabilitas, tapi bukan juga orang normal. Orang gagap itu berada di area abu-abu yang ambigu. Karena tidak dianggap sebagai penyandang disabilitas, orang gagap dianggap sebagai orang normal.

Mereka dipaksa harus berkompetisi diposisi dan tempat yang sama dengan orang normal. Kesulitan orang gagap sepertisaat sekolah, wawancara kerja, telepon kantor, laporan rapat atau hal yang dibutuhkan untuk kemajuan karir di perusahaan. Apa mungkin pemilik perusahaan mau memperkerjakan orang yang tidak bisa menyebut namanya sendiri? Karena orang gagap sendiri kesusahan dalam melakukan pembicaraan normal.

Bahkan sebelum mencoba, orang gagap sudah mendapatkan semua kesulitan tersebut. Buku setebal 256 halaman ini memberikan sudut pandang seorang pengidap kondisi gagap.

Kashiwazaki Yuta seorang anak laki-laki yang baru saja masuk Sekolah Menengah Pertama yang mengidap kondisi gagap sejak umur enam tahun. Karena satu kesalahan saat pentas drama, yuta menjadi takut berbicara dengan orang hingga membuat dirinya gagap.

Pada novel ini anda akan dibuat merasakan campur aduk pikiran dan perasaan yuta dalam menjalani hari-harinya sebagai orang gagap.

Penulisan novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama yang artinya anda bisa merasakan langsung apa yang tengah dialami tokoh utama. Membaca novel ini mungkin saja membantu anda dapat memahami bagaimana perasaan pengidap kondisi gagap.

Jika anda sekalian tertarik bagaimana pengidap kondisi gagap memandang sekitarnya silahkan baca novel ini. Berbicara merupakan hal normal namun tidak bagi sebagian orang. (*)

Penulis: Bina Afi Sabila, Mahasiswa Sastra Jepang Universitas Hasanuddin

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top