MAKASSAR, inspirasinusantara.id — Pagi belum benar-benar datang ketika Khaerunnisa Rahman membuka matanya. Kadang masih gelap, kadang sudah lewat subuh. Hari-harinya dimulai tanpa gegas, kadang jam delapan baru beranjak dari tempat tidur.
Ia tinggal di kawasan Nipa-Nipa, salah satu simpul urban Kota Makassar yang ramai tapi biasa saja. Kuliah, kerja, sesekali bersantai. Rutinitas yang, menurutnya, tidak ada yang istimewa.
BACA JUGA: Kesehatan Warga Tergerus Krisis Iklim Makassar
“Kalau terlambat bangun subuh, biasanya saya bangun jam 08.00, lalu bersiap kerja jam 10.00,” katanya kepada inspirasinusantara.id, Senin (26/05/2025)
Untuk ke kampus atau tempat kerja, ia biasa naik sepeda motor. Tapi kalau sedang lelah, ia memilih cara yang lebih cepat dan nyaman: pesan Grab, atau menunggu jemputan teman. Begitu juga soal makanan. Hampir setiap hari, jari-jarinya menyentuh layar ponsel untuk memesan makanan lewat aplikasi.
“Kalau lagi malas makan di rumah, saya lebih pilih pesan makanan online,” ucapnya sambil tersenyum kecil.
Semua terasa biasa. Tidak ada yang ekstrem, tidak juga mewah. “Saya merasa hidupku cukup-cukup saja, tidak pernah mengeluarkan uang untuk hal yang tidak perlu,” ujarnya.
Tapi ketika ditanya soal lingkungan, ia ragu. “Kurang taumi, tidak tahu juga harus bertanggung jawab seperti apa,” katanya pelan.
Tapi, di balik keseharian yang tampak sederhana itu, tersimpan jejak yang lebih panjang daripada yang tampak. Bukan jejak langkah, melainkan jejak karbon.

Jejak Karbon yang Tak Terlihat, Tapi Menumpuk
“Gaya hidup pribadi berkontribusi sekitar 30 hingga 50 persen dari emisi perkotaan,” ungkap Prof Nita Rukminasari, Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, pada Senin (26/05/2025).
Angka itu bukan bayang-bayang. Ia lahir dari konsumsi energi, mobilitas, dan kebiasaan harian yang dianggap sepele.
Menyalakan AC seharian, membiarkan lampu menyala, berkendara untuk jarak pendek, hingga membuang sampah tanpa memilah—semuanya menyumbang. Bahkan, perangkat digital yang terus menyala, streaming video, hingga konsumsi kemasan plastik sekali pakai, menjadi bagian dari perhitungan emisi karbon kota.
“Sampah yang tidak dikelola juga menghasilkan gas metana yang kuat sebagai gas rumah kaca,” kata Prof. Nita, menekankan bahwa dampaknya tidak hanya kasat mata tapi juga kimiawi.
Bagi Azrar, anggota komunitas pelari Dopamine Running, kesadaran akan jejak itu telah mengubah cara pandangnya. Ia memilih berlari, bukan hanya sebagai olahraga, tetapi sebagai cara hidup yang lebih selaras dengan bumi.
“Gaya hidup ini lebih ramah lingkungan dan hemat biaya,” ujarnya.
Dalam langkah kakinya yang konsisten, Azrar membaca pola masyarakat urban yang cenderung terjebak dalam lingkaran cepat dan praktis. “Budaya konsumerisme dan minimnya kesadaran jadi tantangan utama dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan,” katanya.
Tapi ia percaya pada daya tular perubahan. “Kalau banyak orang lakukan bersamaan, perubahan itu bisa menular,” ucapnya.
Inspirasi datang dari jauh: petani kecil di Afrika yang memulihkan lahan kering lewat agroforestry, hingga warga kota yang menanam cabai dan tomat di atap rumah mereka. Sebuah harapan tumbuh dari tanah yang semula dianggap tidak subur.

Kenyamanan yang Jadi Kebiasaan
Bagi Prof. Tasrifin Tahara, Ketua Departemen Antropologi Universitas Hasanuddin, gaya hidup urban tidak lahir begitu saja. Ia terbentuk dari kebutuhan. Bukan sekadar pilihan, tapi juga respon terhadap tekanan kota yang kian padat, ritme hidup yang serba cepat, dan tuntutan untuk tetap produktif.
“Ini bukan soal merasa bersalah, tapi soal pola hidup yang terbentuk dari kebutuhan masyarakat kota,” katanya.
Menurutnya, kenyamanan dan konsumsi telah menyatu dalam budaya urban. Dalam kondisi yang tidak nyaman, manusia cenderung mencari celah efisiensi dan kepraktisan. Maka muncul budaya pesan instan, kendaraan pribadi, AC menyala sepanjang hari, dan digitalisasi yang tak pernah tidur.
Tapi, ia mengingatkan, narasi bahwa “jejak pribadi tidak signifikan” bisa menyesatkan. “Karena akumulasi jejak pribadi justru membentuk kebudayaan yang bisa memperparah krisis lingkungan,” ujarnya.
Maka, solusi pun tidak perlu dimulai dari hal besar. Prof. Nita menyarankan lima langkah kecil: gunakan transportasi ramah lingkungan, hemat energi, kurangi plastik, adopsi pola makan berkelanjutan, dan hemat air.
“Banyak kebiasaan merugikan lingkungan masih dilakukan, padahal solusinya ada dan bisa dimulai dari hal kecil,” kata Prof Nita. (And/IN)