Menelusuri Jejak Karbon Harian Generasi Z 

Jejak karbon
ILUSTRASI. Setiap scroll, klik, dan outfit yang dikenakan Gen Z diam-diam meninggalkan jejak karbon tak kasatmata dalam kehidupan digital mereka. (foto:ist)

Inspirasinusantara.id – Di tengah gempita cahaya layar dan deru konten yang tak henti-henti mengalir, Generasi Z menari dalam ritme zaman. Namun, setiap scroll yang mereka lakukan, setiap klik, setiap outfit yang mereka kenakan, diam-diam meninggalkan bekas: jejak karbon yang tak kasatmata, tapi nyata membekas di bumi.

Gaya hidup modern yang serba cepat dan digital rupanya bukan tanpa konsekuensi, dan kini, Generasi Z ini berdiri di antara pilihan: tetap nyaman dalam kebiasaan, atau mulai menyusun langkah-langkah kecil untuk menyelamatkan masa depan dari dampak jejak karbon yang terus meningkat.

Mereka dikenal gaul, kreatif, dan selalu terkoneksi. Namun di balik layar ponsel dan tren fashion kekinian, Generasi Z kini juga memikul beban: jejak karbon harian yang terus meningkat akibat gaya hidup digital mereka.

Generasi yang lahir antara 1995 hingga 2010 ini menjadi salah satu populasi paling peduli terhadap krisis iklim. Survei global menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen mahasiswa Gen Z merasa sangat khawatir terhadap perubahan iklim, seperti dilansir laman ITB.ac.id.

Tapi seberapa besar jejak karbon dari rutinitas Gen Z sehari-hari?

Dari Scroll TikTok hingga Makanan Kekinian

Aktivitas digital yang dianggap sepele ternyata menyumbang emisi yang tidak sedikit. Streaming video, gaming, hingga menyimpan ribuan file di cloud semuanya mengandalkan pusat data yang menyedot energi besar.

Rata-rata jejak karbon mahasiswa Gen Z di Indonesia sendiri tercatat 2,27 ton CO₂ per tahun, dengan angka tertinggi mencapai 6,8 ton. Salah satu penyumbang terbesar berasal dari transportasi dan konsumsi energi rumah tangga.

Baca juga : Asap Warung, Jejak Karbon Kota Daeng

Tak hanya itu, makanan yang dikonsumsi pun berkontribusi besar terhadap emisi. Semakin tinggi konsumsi produk hewani dan makanan olahan instan, semakin besar jejak karbon yang ditinggalkan.

Namun kabar baiknya, kesadaran untuk mengubah gaya hidup makin tumbuh di kalangan Gen Z. Mereka mulai beralih ke diet nabati, memilih produk lokal, dan menghindari fast fashion.

Teknologi Hijau dan Gaya Hidup Pintar

Sebagai generasi paling akrab dengan teknologi, Gen Z justru punya keunggulan untuk membuat perubahan. Mereka memanfaatkan kerja jarak jauh, platform edukasi digital, dan media sosial untuk menyuarakan isu-isu iklim.

Penelitian dari Atmosair.com menunjukkan bahwa kerja hybrid bisa memangkas emisi karbon hingga 29 persen dalam seminggu.

Baca juga : Kearifan Lokal Jadi Solusi: Cara Masyarakat Enrekang Menjawab Krisis Sampah

Sementara itu, data dari Vogue Business mencatat bahwa 27 persen Gen Z di China secara aktif mengurangi dampak karbon lewat pilihan fashion ramah lingkungan, sementara 28 persen sudah membeli produk eco-brand.

Antara Tahu dan Mau: Tantangan Konsistensi

Meski kepedulian tinggi, tak semua Gen Z mampu bertindak konsisten. Fenomena ini dikenal sebagai attitude–behavior gap, yakni ketidaksesuaian antara kesadaran lingkungan dan tindakan nyata. Banyak yang sadar akan pentingnya hidup berkelanjutan, namun belum sepenuhnya mengubah kebiasaan karena faktor harga, kenyamanan, atau tekanan sosial.

“Saya tahu makanan nabati lebih baik, tapi jujur belum bisa lepas dari kopi kekinian dan daging bakar,” ujar Nurmala (22), mahasiswa di Makassar yang mengaku sedang mencoba mengurangi emisi pribadi.

Tips Mengurangi Jejak Karbon untuk Gaya Hidup Gen Z

Berikut cara Gen Z mengurangi jejak karbon dalam gaya hidup digital mereka:

  1. Kurangi Waktu Layar (Screen Time)
    Semakin lama kita online, semakin besar energi yang digunakan server dan jaringan. Batasi scroll tidak penting dan prioritaskan aktivitas offline.

  2. Pilih Fashion Berkelanjutan
    Hindari fast fashion. Gunakan pakaian lebih lama, beli preloved, atau dukung brand lokal yang ramah lingkungan.

  3. Gunakan Transportasi Ramah Lingkungan
    Jalan kaki, naik sepeda, atau carpool bisa mengurangi emisi dari kendaraan pribadi.

  4. Bersihkan Jejak Digital
    Hapus email, file cloud, dan aplikasi yang tidak terpakai. Data digital yang menumpuk tetap butuh energi untuk disimpan.

Dengan jumlah yang terus tumbuh dan pengaruh digital yang besar, Generasi Z berperan penting dalam membentuk masa depan iklim dunia. Mereka bukan hanya konsumen, tapi juga kreator solusi.

Langkah-langkah kecil seperti bersepeda ke kampus, mengurangi belanja online, atau membersihkan penyimpanan digital adalah awal yang berdampak besar.

Jejak karbon bukan hanya angka. Ia adalah cerminan dari pilihan-pilihan harian—dan Generasi Z, dengan segala potensinya, kini berada di titik balik penting untuk membuat bumi sedikit lebih ringan. (*/IN)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top