Riset Ungkap Dampak Google Translate pada Cara Siswa Belajar Bahasa

INSPIRASI NUSANTARA–Penggunaan Google Translate dalam pembelajaran bahasa memengaruhi cara siswa memahami dan mengembangkan kemampuan bahasa asing, terutama dalam aktivitas membaca dan menulis. Temuan tersebut diungkap dalam riset yang dilakukan oleh Elisabet Titik Murtisari dan Gary Bonar dari School of Curriculum, Teaching & Inclusive Education.

Penelitian ini mengkaji pola penggunaan Google Translate oleh siswa dalam konteks akademik, dengan fokus pada bagaimana, kapan, dan untuk tujuan apa alat terjemahan otomatis itu dimanfaatkan. Peneliti menemukan bahwa siswa dengan tingkat kemahiran bahasa yang lebih rendah cenderung menjadikan Google Translate sebagai langkah awal saat mengerjakan tugas. Alih-alih mencoba memahami teks secara mandiri, siswa langsung menerjemahkan teks secara instan.

Dalam laporannya, peneliti mencatat adanya perubahan strategi belajar akibat ketergantungan terhadap teknologi. Proses pembelajaran yang seharusnya melibatkan analisis struktur kalimat, tata bahasa, dan kosakata bergeser menjadi pencarian hasil terjemahan cepat. Kondisi ini menandai pergeseran dari pembelajaran bahasa yang aktif menuju pendekatan yang lebih instan.

Ketergantungan tersebut, menurut peneliti, berkaitan dengan fenomena L2 avoidance, yakni kecenderungan siswa menghindari penggunaan bahasa kedua secara aktif. “Google Translate sering digunakan sebagai jalan pintas, bukan sebagai alat bantu pendukung pembelajaran,” tulis Murtisari dan Bonar dalam laporan penelitian mereka.

Riset ini juga mengidentifikasi sejumlah faktor yang mendorong ketergantungan siswa terhadap terjemahan otomatis, antara lain keterbatasan penguasaan kosakata dan tata bahasa, tekanan waktu dalam menyelesaikan tugas akademik, serta kemudahan akses teknologi. Dampaknya, siswa yang terlalu sering mengandalkan hasil terjemahan instan cenderung kurang terlibat dalam latihan menulis dan penyusunan kalimat secara mandiri.

Meski demikian, peneliti tidak menilai Google Translate sepenuhnya berdampak negatif. Dalam konteks tertentu, alat ini dinilai membantu siswa memahami kosakata yang sulit dan memperoleh gambaran awal isi teks, terutama bagi pembelajar bahasa pada tingkat dasar. “Manfaatnya tetap ada jika digunakan secara sadar dan terbatas sebagai pendukung, bukan pengganti proses belajar,” kata peneliti.

Berdasarkan temuan tersebut, peneliti menekankan pentingnya peran pendidik dan pembuat kebijakan pendidikan dalam mengarahkan penggunaan teknologi terjemahan di ruang kelas. Google Translate disarankan ditempatkan sebagai alat bantu pembelajaran yang terkendali, sementara proses utama penguasaan bahasa tetap menekankan latihan aktif, pemahaman konteks, dan produksi bahasa secara mandiri.

Riset ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi pendidikan membawa konsekuensi langsung terhadap cara siswa belajar bahasa. Tanpa strategi pedagogis yang tepat, kemudahan akses terjemahan instan berpotensi mengubah pembelajaran bahasa dari proses aktif menjadi sekadar konsumsi hasil otomatis.(eva/IN)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top