Lima Tahun Pascapengerukan, Perempuan dan Nelayan Kodingareng Masih Memikul Derita
Laut yang Tinggal Nama
MAKASSAR, Inspirasinusantara.id — Matahari belum sepenuhnya terbit di ufuk timur saat Sita menyeberang ke daratan Makassar dengan perahu kayu bermesin tempel.
Di tangannya tergantung dua kantong plastik berisi kue dan bumbu dapur, hasil dagangannya semalam.
Baca juga: Tenggiri Menghilang di Pulau Kodingareng Makassar
“Saya berdagang keliling, suami jaga anak di rumah,” ujarnya singkat.
Dulu, Sita hanya menunggu suaminya pulang dari melaut. Kini, ia harus menyusuri gang-gang kota demi memenuhi kebutuhan harian keluarga.
Baca juga: Kisah Dg Sese dan Krisis Iklim di Kota Makassar
Sejak kapal-kapal pengeruk pasir melintasi perairan Kodingareng lima tahun lalu, laut bukan lagi ruang hidup, tapi luka yang terbuka lebar. Terumbu karang rusak. Ikan menjauh. Pendapatan nelayan amblas.
Dari ratusan nelayan yang dulunya menggantungkan hidup dari laut, kini hanya sekitar 20 persen yang masih bertahan di Pulau Kodingareng.
Copong yang Hilang, Harapan yang Retak
Di titik tangkap utama bernama copong, yang dulu jadi rumah ikan, kini tinggal hamparan pasir keruh dan batu karang mati. Nelayan kehilangan arah.
“Copong sudah tak ada ikan lagi,” kata Sita.
Wilayah itu menjadi zona penting bagi nelayan tradisional Kodingareng. Tapi setelah pengerukan pasir laut untuk proyek reklamasi di kawasan Makassar New Port pada 2020, laut berubah drastis.
Hasil tangkapan menyusut tajam. Satu per satu perahu ditambatkan. Banyak yang akhirnya dijual atau ditinggal begitu saja.
Tak hanya laut yang porak-poranda, daratan pun ikut limbung. Ekonomi rumah tangga runtuh. Anak-anak terpaksa putus sekolah. Sebagian dikawinkan muda. Sebagian lagi ikut orang tua mencari ikan meski baru lulus SD.
Perempuan yang Ambil Alih
Dalam suasana putus asa itu, para perempuan Kodingareng mengambil alih peran ekonomi. Sekitar 80 persen dari mereka kini berdagang keliling, dari pasar ke pasar, dari dermaga ke warung.
Banyak dari mereka terjerat utang ke rentenir, demi bisa membeli beras atau susu anak.
“Pendapatan tetap sudah tidak ada,” ujar Sita.
Jejaring Perempuan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Nusantara mencatat perubahan drastis itu dalam diskusi publik Sabtu, 31 Mei lalu.
Acara itu menjadi bagian dari rangkaian refleksi atas Hari Keanekaragaman Hayati Dunia yang jatuh pada 22 Mei.
Diskusi berjudul “Lima Tahun Pascapengerukan: Potret Kehidupan Perempuan dan Biodiversitas di Kawasan Spermonde” itu menyoroti bagaimana krisis ekologi menjelma menjadi krisis sosial, dengan perempuan sebagai korban terdepan.
Dari Mega-Biodiversitas ke Mega-Ketimpangan
Indonesia dikenal sebagai negara mega-biodiversitas. Tapi, seperti dikatakan ahli terumbu karang dari Universitas Hasanuddin, Syafyudin Yusuf, negeri ini belum mampu memperlakukan alam dengan bijak.
“Kita kaya, tapi kita abai,” ujarnya.
Ia mencatat bahwa kerusakan terumbu karang di perairan Spermonde sangat mungkin disebabkan oleh pengerukan pasir, terutama karena pasir laut diangkut langsung dari dasar laut tanpa pemulihan ekologis.
Syafyudin juga mengingatkan bahwa perempuan dan anak-anak menjadi kelompok paling rentan dalam bencana ekologi.
“Uang tak berputar, barter kembali muncul,” ucapnya.
Bahkan di beberapa desa pesisir, warga mulai menukar ikan dengan beras, atau sayur dengan garam, seperti kembali ke masa lalu.
Di Tengah Keterbatasan
Meski dililit utang dan ketidakpastian, perempuan-perempuan Kodingareng tidak tinggal diam.
Mereka membangun jejaring advokasi, belajar kebijakan, dan bicara di forum-forum nasional. Mereka menuntut agar suara perempuan pesisir masuk dalam tata kelola laut berkelanjutan.
“Kami ingin pemerintah dengar dari kami langsung,” kata Sita.
Selama ini, warga pulau kecil kerap hanya menjadi angka dalam laporan, bukan aktor dalam kebijakan.
Padahal mereka adalah saksi dan korban langsung dari krisis ekologis.
“Jangan bilang dari jauh bahwa semua baik-baik saja,” ucap Sita dengan nada tajam.
Laut yang Paling Sunyi
Di pinggir dermaga Kodingareng, perahu-perahu nelayan terikat diam. Di atasnya, jaring-jaring kusut menggantung, seperti harapan yang tak lagi dilemparkan ke laut.
Di bawah langit biru dan angin asin, laut tampak tenang namun menyimpan sunyi yang dalam.
“Laut kami tinggal kenangan,” ujar Sita pelan.
Lima tahun sudah berlalu sejak pengerukan pertama. Tapi bagi warga Kodingareng, luka itu belum sembuh. Bahkan mungkin, belum sempat benar-benar diperiksa. (Andi/IN)