INSPIRASI NUSANTARA—Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam produksi program televisi mulai diterapkan secara nyata di industri penyiaran. Teknologi ini dimanfaatkan untuk menghasilkan naskah, visual, hingga format acara secara otomatis, seiring upaya industri media beradaptasi dengan tekanan ekonomi dan perubahan perilaku audiens.
Pemanfaatan AI dalam televisi mencakup pengolahan data penonton, pembuatan karakter virtual, penyusunan alur cerita, serta produksi elemen visual dengan keterlibatan manusia yang semakin terbatas. Praktik ini dinilai mempercepat proses produksi dan menekan biaya operasional, terutama pada program berbasis hiburan dan konten digital.
Pengamat media dan budaya digital dari Universitas Indonesia, Dr. Rendra Pratama, menilai penggunaan AI dalam televisi merupakan respons industri terhadap tuntutan efisiensi. “AI menawarkan kecepatan dan skala produksi yang sulit dicapai manusia, terutama dalam ekosistem media yang dituntut serba cepat dan terukur,” ujarnya.
Meski demikian, masuknya AI ke ranah kreatif memunculkan kekhawatiran terhadap kualitas kreativitas dan nilai seni. Konten yang dihasilkan mesin dinilai lebih banyak mereplikasi pola data dan selera pasar, bukan lahir dari pengalaman emosional dan refleksi sosial yang selama ini menjadi dasar karya seni audiovisual.
Menurut Rendra, pergeseran ini berpotensi mengubah peran kreator manusia. Ia menyebut fungsi penulis naskah, pengarah kreatif, hingga perancang karakter dapat bergeser dari pencipta utama menjadi pengawas output teknologi. “Risikonya, proses kreatif menjadi sangat teknokratis dan kehilangan konteks budaya,” katanya.
Isu lain yang turut mengemuka adalah persoalan etika dan kepemilikan karya. Pakar hukum kekayaan intelektual, Siti Amaliah, menjelaskan bahwa konten berbasis AI masih menyisakan ruang abu-abu dalam aspek hak cipta. “Jika karya dihasilkan dari pengolahan data karya manusia sebelumnya, maka pertanyaan tentang orisinalitas dan tanggung jawab hukum menjadi sangat relevan,” ujarnya.
Di sisi berbeda, sejumlah akademisi melihat AI tidak selalu harus diposisikan sebagai ancaman. Dosen seni media Institut Seni Indonesia, Bima Nugraha, menilai teknologi ini dapat memperluas kemungkinan artistik jika digunakan secara kolaboratif. “AI seharusnya diperlakukan sebagai alat bantu eksplorasi, bukan pengganti peran kreator,” ujarnya.
Masuknya AI ke industri televisi menandai perubahan mendasar dalam cara konten diproduksi dan dinilai. Tantangan ke depan tidak hanya berkaitan dengan adopsi teknologi, tetapi juga bagaimana industri penyiaran menjaga keseimbangan antara efisiensi produksi, kebebasan kreatif, dan tanggung jawab budaya di tengah percepatan transformasi digital.(eva/IN)













