INSPIRASINUSANTARA-Kemiskinan di Indonesia dinilai masih menjadi persoalan yang sulit diputus antar generasi. Sebuah penelitian menunjukkan anak yang tumbuh dalam keluarga miskin cenderung tetap menghadapi kesulitan ekonomi ketika dewasa, meski telah memasuki usia produktif dan bekerja.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam Journal of International Development melalui penelitian berjudul Effect of Growing Up Poor on Labor Market Outcomes: Evidence From Indonesia. Studi yang dilakukan Mayang Rizky bersama tim peneliti itu meneliti dampak kemiskinan masa kecil terhadap kondisi ekonomi seseorang ketika dewasa.
Penelitian menyoroti bahwa kemiskinan tidak dapat dijelaskan hanya melalui faktor individu seperti malas bekerja atau kurang belajar. Peneliti menilai kondisi struktural seperti akses pendidikan, layanan kesehatan, dan stabilitas ekonomi keluarga memiliki pengaruh besar terhadap peluang hidup seseorang.
Untuk mengukur dampak jangka panjang kemiskinan, penelitian menggunakan latar krisis moneter 1998 yang menyebabkan sekitar 14 juta orang jatuh miskin. Kondisi tersebut digunakan untuk melihat bagaimana perubahan ekonomi keluarga berdampak terhadap anak-anak dalam jangka panjang.
Peneliti kemudian menganalisis kondisi 1.552 anak usia 8 hingga 17 tahun dari keluarga miskin yang dipantau secara berkala pada tahun 2000, 2007, dan 2014. Hasilnya menunjukkan anak yang mengalami kemiskinan saat kecil cenderung memiliki pendapatan lebih rendah ketika dewasa dibanding anak dari keluarga yang lebih berkecukupan.
Dalam penelitian itu disebutkan pendapatan mereka saat dewasa bahkan bisa lebih rendah hingga 87 persen dibanding kelompok anak yang tidak tumbuh dalam kemiskinan. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa dampak kemiskinan masa kecil tidak berhenti pada satu fase kehidupan, tetapi dapat memengaruhi mobilitas sosial hingga usia produktif.
Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, menilai kemiskinan struktural terjadi karena pembangunan yang tidak merata. “Kemiskinan struktural disebabkan oleh pembangunan tidak merata yang menyebabkan peluang orang miskin melakukan mobilitas terbatas,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan pendapatan masyarakat, tetapi juga menyangkut akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kesempatan kerja yang belum setara di berbagai daerah.
Penelitian ini menjadi pengingat bahwa penanganan kemiskinan tidak cukup hanya melalui bantuan ekonomi jangka pendek. Pemerintah dinilai perlu memperkuat kebijakan pembangunan manusia sejak usia dini agar anak-anak dari keluarga miskin memiliki peluang yang lebih setara untuk memperoleh pendidikan, pekerjaan, dan kualitas hidup yang lebih baik ketika dewasa.(frh/IN)













