Pengangguran Turun, Tapi 63% Pekerja Sulsel Tidak Punya Kepastian?

Pekerja Sulsel
ILUSTRASI. Ilustrasi bagan pekerja Sulsel yang menunjukan pengangguran menurun hingga Februari 2026. (foto:ilustrasiinspirasinusantara.id)

MAKASSAR,inspirasinusantara.id — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan melaporkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,95 persen pada Februari 2026. Angka ini turun tipis 0,01 persen poin dibandingkan Februari 2025 berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas). Di tengah penurunan tersebut, struktur ketenagakerjaan justru didominasi sektor informal.

Jumlah angkatan kerja di Sulawesi Selatan tercatat mencapai 5,00 juta orang. Angka ini meningkat sekitar 179 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4,75 juta orang bekerja dan sekitar 247 ribu orang masih menganggur.

Namun, data menunjukkan fakta yang jarang menjadi sorotan. Sebanyak 63,13 persen atau sekitar 3,00 juta orang bekerja di sektor informal. Kondisi ini menandakan bahwa mayoritas pekerja belum memiliki kepastian pendapatan dan perlindungan kerja yang memadai.

Situasi ini penting karena penurunan pengangguran tidak selalu mencerminkan peningkatan kesejahteraan. Pekerjaan informal umumnya rentan terhadap guncangan ekonomi dan minim jaminan sosial. Artinya, stabilitas ekonomi rumah tangga pekerja masih berada dalam risiko.

Dari sisi kualitas tenaga kerja, tantangan juga masih besar. Sebanyak 36,68 persen pekerja berpendidikan SD ke bawah, sementara lulusan perguruan tinggi hanya 14,27 persen. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan jumlah pekerja belum sepenuhnya diiringi peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Kondisi tersebut dapat memicu kekhawatiran, terutama bagi generasi muda. Tingkat pengangguran lulusan SMK tercatat paling tinggi, yaitu 9,68 persen. Fakta ini memperlihatkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya menjamin akses terhadap pekerjaan yang layak.

Sejumlah langkah dinilai perlu segera dilakukan untuk memperbaiki kondisi ini. Pemerintah didorong untuk memperluas lapangan kerja formal dan meningkatkan pelatihan berbasis kebutuhan industri. Di sisi lain, masyarakat juga perlu meningkatkan keterampilan agar mampu bersaing di pasar kerja.

Data resmi BPS Sulawesi Selatan melalui Sakernas Februari 2026 menegaskan bahwa penurunan pengangguran belum sepenuhnya mencerminkan kualitas ketenagakerjaan. Masalah struktural seperti dominasi sektor informal masih menjadi tantangan utama. Perhatian tidak hanya tertuju pada jumlah pekerja, tetapi juga kualitas pekerjaan yang tersedia.(slv/IN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *