INSPIRASINUSANTARA-Risiko kesehatan akibat suhu panas ekstrem di kawasan perkotaan pesisir menjadi perhatian serius di Makassar, seiring meningkatnya dampak perubahan iklim terhadap lingkungan padat penduduk dan sanitasi.
Kondisi tersebut mendorong kolaborasi riset antara Universitas Hasanuddin dan Stanford University untuk mengkaji dampak pemanasan global terhadap kesehatan masyarakat perkotaan.
Kegiatan kolaboratif ini ditandai melalui pameran kesehatan di Kecamatan Tallo, Sabtu (10/5/2026), yang juga menghadirkan layanan kesehatan gratis serta edukasi terkait dampak cuaca panas ekstrem.
Direktur Kemitraan Unhas, Ansariadi, mengatakan penelitian bersama yang telah berjalan hampir dua tahun itu menemukan adanya keterkaitan antara kenaikan suhu dan meningkatnya risiko penyakit di wilayah padat penduduk.
“Penelitian meliputi pengelolaan sampah, dampak cuaca panas terhadap kesehatan, pemantauan penyakit anak, hingga monitoring tumbuh kembang anak di masyarakat,” kata Ansariadi.
Sementara itu, peneliti Stanford University, Morgan, menyebut perubahan iklim memperburuk persoalan kesehatan yang sudah ada, termasuk penyakit menular dan stunting.
Ia menegaskan, tanpa upaya adaptasi dan edukasi masyarakat, dampak perubahan iklim berpotensi memperburuk kualitas hidup warga di kawasan pesisir perkotaan.
Kolaborasi ini diharapkan menghasilkan pendekatan berbasis komunitas dalam menghadapi krisis iklim, khususnya terkait kesehatan lingkungan dan pencegahan penyakit di wilayah urban yang rentan terhadap panas ekstrem.(wdy/IN)













