iklim  

Krisis Iklim Picu Kecemasan Mental Pemuda

KRISIS IKLIM
KRISIS.iklim yang memicu cuaca ekstrem dan kerusakan lingkungan dinilai tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga meningkatkan kecemasan mental atau eco-anxiety di kalangan masyarakat, terutama generasi muda.(foto:ist)

INSPIRASINUSANTARA -Krisis iklim mulai memicu kekhawatiran dan tekanan mental di kalangan anak muda seiring meningkatnya cuaca ekstrem dan bencana lingkungan di berbagai wilayah. Peningkatan suhu global, banjir, kekeringan, hingga kebakaran hutan membuat banyak generasi muda merasa cemas terhadap masa depan bumi dan kualitas hidup mereka.

Fenomena tersebut dikenal sebagai eco-anxiety atau kecemasan iklim, yakni kondisi ketika seseorang merasa takut, khawatir, dan kehilangan rasa aman akibat perubahan iklim yang semakin tidak menentu. Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan psikologis akibat krisis iklim dinilai terus meningkat bersamaan dengan makin seringnya bencana alam terjadi.

Peneliti dari Imperial College London, Mala Rao, mengatakan dampak kesehatan mental dan perubahan iklim saling berkaitan. Menurut dia, ancaman perubahan iklim berkembang lebih cepat dibanding kemampuan manusia dalam mengantisipasi dampaknya.

“Dampak perubahan iklim terhadap kesehatan mental berkembang semakin cepat dan membutuhkan perhatian serius,” ujar Mala Rao.

Kekhawatiran terhadap masa depan lingkungan membuat anak muda menjadi kelompok yang paling rentan mengalami kecemasan iklim. Selain itu, kelompok yang bergantung pada kondisi alam dan cuaca juga menghadapi tekanan akibat perubahan musim yang sulit diprediksi dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi.

Dampak psikologis akibat krisis iklim semakin terasa ketika bencana terjadi berulang dalam waktu singkat. Kehilangan tempat tinggal, rusaknya sumber penghasilan, hingga perpindahan akibat bencana disebut ikut meningkatkan tekanan mental masyarakat.

WHO memperingatkan tekanan akibat krisis iklim dapat meningkatkan risiko depresi, gangguan kecemasan, hingga bunuh diri. Risiko tersebut dipicu oleh berbagai kondisi, seperti polusi udara, kekurangan air bersih, kehilangan pekerjaan, migrasi paksa, dan hilangnya tempat tinggal akibat bencana.

Technical Officer WHO Pasifik Barat, Jasmine Vergara, mengatakan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan mental masih sering diabaikan dalam kebijakan penanganan krisis iklim.

“Dampak kesehatan mental akibat perubahan iklim dapat muncul dari berbagai kondisi, termasuk bencana, polusi udara, kekurangan air, kehilangan pekerjaan, migrasi paksa, dan hilangnya tempat tinggal,” kata Jasmine Vergara.

Menurut WHO, dukungan kesehatan jiwa dan psikososial perlu menjadi bagian penting dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Namun, investasi global untuk layanan kesehatan mental masih tergolong rendah. Di kawasan Pasifik Barat, anggaran kesehatan mental hanya sekitar 1,3 persen dari total anggaran kesehatan.

Di Indonesia, penanganan krisis iklim masih lebih banyak berfokus pada kerusakan lingkungan dan infrastruktur. Sementara itu, dampak psikologis akibat cuaca ekstrem dan bencana dinilai belum menjadi perhatian utama dalam upaya mitigasi maupun adaptasi perubahan iklim.

Meningkatnya eco-anxiety menunjukkan bahwa krisis iklim kini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mulai memengaruhi kondisi sosial dan kesehatan mental masyarakat, terutama generasi muda.(jmi/IN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *