INSPIRASINUSANTARA.ID — KALLA meraih penghargaan Platinum kategori Bidang Keanekaragaman Hayati dalam ajang Innovation Technology for Social & Environmental Awards (InTechSEA) 2026 melalui program Aksi Mangrove Lestari.
Penghargaan dari Universitas Hasanuddin tersebut diumumkan dalam InTechSEA Awards 2026 di Four Seasons Hotel Jakarta, pada 14 September 2026.
Program yang menjadi dasar penghargaan itu dijalankan di Kelurahan Tekolabbua, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. KALLA mengembangkan konservasi mangrove dengan target area tanam seluas 24 hektare dan bentang kawasan mencapai 6,5 kilometer.
Hingga informasi ini disampaikan, realisasi penanaman telah mencapai 13,5 hektare. Artinya, sekitar 56,25 persen dari target luas penanaman telah terealisasi, sementara 10,5 hektare lainnya masih menjadi bagian dari target program.
Capaian tersebut menunjukkan perkembangan pelaksanaan program. Namun, luas area yang ditanami belum dengan sendirinya menggambarkan keberhasilan pemulihan ekosistem karena pertumbuhan dan keberlangsungan hidup mangrove juga perlu dipantau.
Mengapa Konservasi Mangrove Penting bagi Warga Pesisir?
Aksi Mangrove Lestari merupakan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) KALLA yang menggabungkan tiga aspek, yakni lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Pada aspek lingkungan, program ini diarahkan untuk memulihkan ekosistem pesisir dan mendukung peningkatan populasi biota laut, termasuk kepiting bakau.
Mangrove memiliki fungsi ekologis penting di kawasan pesisir. Keberadaannya dapat membantu melindungi garis pantai, menyediakan habitat bagi berbagai biota, serta mendukung keseimbangan ekosistem yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat pesisir.
Bagi warga yang menggantungkan penghidupan pada sumber daya pesisir, kondisi ekosistem menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keberlanjutan aktivitas ekonomi.
Corporate Communication & Sustainability Department Head KALLA, Nadya Tyagita, mengatakan program tersebut tidak hanya berorientasi pada pemulihan keanekaragaman hayati, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi perubahan iklim.
“Aksi Mangrove Lestari tidak hanya diarahkan untuk memulihkan keanekaragaman hayati, tetapi juga meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim serta menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Nadya.
Meski demikian, rilis perusahaan belum menyertakan hasil pengukuran perubahan populasi biota laut, tingkat keberhasilan hidup tanaman mangrove, maupun kondisi ekosistem sebelum dan setelah program berjalan.
Karena itu, manfaat ekologis tersebut masih perlu dibedakan antara tujuan program dan hasil yang telah terukur.
Masyarakat Pangkep Dilibatkan dalam Pengelolaan Mangrove
Selain penanaman, KALLA menjalankan pelatihan dan pendampingan bagi masyarakat di sekitar lokasi program.
Kegiatan tersebut menghasilkan pembentukan Kelompok Tani Nelayan Sejahtera Kabupaten Pangkep, yang berperan dalam pengelolaan dan pemanfaatan kawasan mangrove.
Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam program konservasi karena pemeliharaan kawasan tidak berhenti setelah bibit ditanam.
Pengelolaan jangka panjang membutuhkan pemantauan pertumbuhan tanaman, pemeliharaan kawasan, serta upaya menjaga aktivitas pemanfaatan agar tidak merusak ekosistem yang sedang dipulihkan.
Melalui pembentukan kelompok pengelola, program Aksi Mangrove Lestari berupaya memberikan peran kepada masyarakat setempat dalam menjaga keberlanjutan kawasan.
Namun, rilis belum merinci jumlah anggota kelompok, bentuk pendampingan yang telah diberikan, maupun mekanisme pengelolaan kawasan setelah penanaman selesai.
Informasi tersebut penting untuk menilai kapasitas masyarakat dalam melanjutkan kegiatan konservasi secara mandiri.
Konservasi Mangrove Juga Membuka Peluang Ekonomi
Pada aspek ekonomi, Aksi Mangrove Lestari diarahkan untuk mengembangkan usaha berbasis potensi kawasan pesisir.
Sejumlah peluang yang disebutkan meliputi penjualan bibit mangrove, budidaya kepiting bakau dan tiram, serta pengembangan ekowisata mangrove.
Kegiatan tersebut berpotensi menciptakan sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat apabila dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Penjualan bibit, misalnya, dapat berkaitan dengan kebutuhan penanaman dan rehabilitasi mangrove. Sementara itu, budidaya kepiting bakau dan tiram menjadi salah satu bentuk pemanfaatan potensi ekonomi kawasan pesisir.
Pengembangan ekowisata juga dapat membuka ruang kegiatan ekonomi apabila didukung pengelolaan kawasan dan fasilitas yang sesuai.
Meski demikian, rilis belum mencantumkan jumlah usaha yang telah berjalan, nilai penjualan, ataupun peningkatan pendapatan masyarakat dari kegiatan tersebut.
Dengan demikian, manfaat ekonomi yang dijelaskan masih berupa peluang pengembangan, bukan capaian pendapatan yang telah dapat diukur.
Penghargaan Platinum Jadi Pengakuan atas Program Konservasi
InTechSEA Awards 2026 merupakan ajang apresiasi terhadap inovasi dan program yang berkaitan dengan dampak sosial serta lingkungan.
Bidang penilaiannya mencakup pemberdayaan masyarakat, teknologi, ekonomi inklusif, pendidikan, pengelolaan sampah, transformasi energi, hingga inovasi keberlanjutan.
Dalam ajang tersebut, KALLA memperoleh penghargaan Platinum untuk kategori Bidang Keanekaragaman Hayati melalui Aksi Mangrove Lestari. Penghargaan ini menambah pengakuan yang sebelumnya diterima perusahaan.
Pada Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2026, KALLA meraih predikat Gold untuk kategori Biodiversity Conservation. Sementara itu, pada Top CSR Awards 2025, perusahaan memperoleh penghargaan Top CSR Awards 2025 #Star 4.
Rangkaian penghargaan tersebut menunjukkan adanya apresiasi terhadap program tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan.
Namun, penghargaan tidak dapat menggantikan kebutuhan akan pemantauan hasil program di lapangan, terutama untuk memastikan keberlanjutan tanaman dan manfaat yang dirasakan masyarakat.
Tantangan Pemulihan Mangrove Setelah Penanaman
Dengan realisasi 13,5 hektare dari target 24 hektare, Aksi Mangrove Lestari masih memiliki area penanaman yang perlu diselesaikan.
Selain memenuhi target luas, keberlanjutan program juga berkaitan dengan pemeliharaan tanaman, pengelolaan kawasan, dan keterlibatan masyarakat dalam jangka panjang.
Nadya berharap program tersebut terus berlanjut sebagai bagian dari upaya menjaga ekosistem pesisir sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam konservasi lingkungan.
“Ke depan, kami berharap program ini dapat terus berlanjut sebagai bagian dalam menjaga ekosistem pesisir, memperkuat peran masyarakat dalam konservasi lingkungan, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi generasi mendatang,” tuturnya.
Bagi masyarakat Tekolabbua, keberhasilan program pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh penghargaan yang diterima perusahaan atau luas lahan yang telah ditanami.
Perkembangan kondisi ekosistem, keberlanjutan kelompok pengelola, serta realisasi peluang ekonomi menjadi bagian penting untuk melihat manfaat program dalam jangka panjang.
Melalui Aksi Mangrove Lestari, KALLA berupaya menghubungkan konservasi lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat pesisir. Hasil jangka panjangnya akan bergantung pada keberlanjutan pengelolaan dan kemampuan program memberikan manfaat yang dapat dirasakan warga. (*/IN)














