INSPIRASI NUSANTARA–Pendidikan literasi digital dinilai lebih efektif dalam melindungi anak dari risiko penggunaan media sosial dibandingkan kebijakan pelarangan akses secara langsung. Penilaian ini disampaikan peneliti pendidikan dan digital berdasarkan sejumlah kajian tentang perilaku anak di ruang digital.
Peneliti menilai, larangan total bermain media sosial cenderung bersifat jangka pendek dan tidak menyentuh akar persoalan. Anak justru berpotensi mencari cara lain untuk tetap mengakses media sosial tanpa pengawasan, sehingga risiko terpapar hoaks, perundungan daring, pelanggaran privasi, hingga kecanduan digital tetap terjadi.
“Larangan tanpa pemahaman tidak serta-merta membuat anak aman di ruang digital. Anak tetap bisa terpapar konten bermasalah jika tidak dibekali kemampuan memahami risiko dan cara kerja platform,” ujar salah satu peneliti pendidikan digital.
Sebaliknya, pendidikan literasi digital dipandang mampu membekali anak dengan keterampilan kritis dalam menggunakan media sosial. Literasi digital mencakup pemahaman terhadap konten digital, etika bermedia sosial, kesadaran keamanan data pribadi, serta kemampuan menilai informasi secara kritis.
Peneliti menjelaskan, anak yang memahami mekanisme media sosial, termasuk cara konten direkomendasikan dan dampak psikologis dari interaksi daring, cenderung lebih mampu mengontrol perilaku digitalnya. “Pemahaman ini membuat anak tidak sekadar menjadi pengguna, tetapi subjek yang sadar dalam mengambil keputusan di ruang digital,” jelasnya.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa program literasi digital yang diterapkan di sekolah memberikan dampak positif. Melalui pembelajaran langsung di kelas, siswa dinilai lebih memahami cara kerja media sosial dan dampaknya dibandingkan pendekatan pembatasan akses tanpa edukasi.
Keterlibatan orang tua dan pendidik disebut sebagai faktor penting dalam keberhasilan literasi digital. Pendampingan aktif, dialog terbuka, serta contoh penggunaan media sosial yang sehat dinilai lebih efektif daripada kontrol sepihak.
Para pakar menegaskan, kebijakan pembatasan atau pelarangan akses media sosial yang tengah dipertimbangkan di sejumlah negara perlu diimbangi dengan strategi pendidikan digital yang kuat. Tujuannya agar anak tidak hanya dibatasi, tetapi juga dibekali kemampuan berinteraksi secara aman dan bertanggung jawab di dunia digital yang semakin kompleks.(eva/IN)



